BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kegiatan pembelajaran yang selama ini berlangsung disetiap lembaga pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. (UU Sisdiknas Ps. 1, ayat 1).
Ilmu pengetahuan dan keterampilan, yang diperoleh hendaknya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ditengah-tengah masyarakat. Penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan di tengah masyarakat, akan menumbuhkan kepercayaan yang tinggi kepada dunia pendidikan, yang pada akhirnya akan memberi kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan.
Akan tetapi pada kenyataanya pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh peserta didik seakan bias tak berbekas dan tak bermakna , sehingga dapat kita lihat hanya sedikit sekali perbedaan antara orang yang mengenyam pendidikan dengan orang yang tidak mengenyam pendidikan. Pembiasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh itu disebabkan oleh kurang bermaknanya proses pembelajaran yang dialami oleh peserta didik selama ini.
Kekurang bermaknaan proses pembelajaran itu disebabkan oleh lemahnya pemahaman guru terhadap landasan pendidikan yang seharusnya menjadi acuan pelaksanaan program pembelajaran di sekolah, serta kurang variatifnya guru dalam menggunakan metode pembelajaran.
Guru sebagai tenaga pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (UU Sisdiknas Ps. 39, ayat 2)
Sebagai tenaga professional guru hendaknya memahami landasan tersebut, karena hal itu menyangkut tanggung jawab dan peran guru dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya.
B. Masalah
Proses pembelajaran yang selama ini berlangsung dapat dikatakan kurang bermakna disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
1. Lemahnya pemahaman guru terhadap landasan pendidikan
2. Kurangnya persiapan guru sebelum melaksanakan pembelajaran, baik persiapan yang bersifat administrative, maupun persiapan yang menyangkut kompetensi guru itu sendiri
3. Proses pembelajaran hanya berlaku sebagai wahana transfer informasi.
4. Pembelajaran hanya berorientasi hasil (out put)
5. Siswa hanya dijadikan sebagai obyek ajar, bukan sebagai subyek ajar, yang diibaratkan sebagai bejana kosong yang harus diisi.
6. Guru berperan sebagai eksekutor, bukan fasilitator.
7. Proses pembelajaran hanya melibatkan factor intelegensi kurang melibatkan, factor aktifitas fisik, emosi, dan perasaan.
8. Kurangnya perhatian guru terhadap gaya belajar siswa
9. Data profil siswa yang dimiliki guru tidak lengkap, atau kurang memperhatikan profil siswa
C. Rumusan Masalah
Dari beberapa permasalahan diatas, perlu kiranya kita merubah strategi pembelajaran dengan :
1. Memahami tugas guru
2. Melakukan persiapan dengan matang terlebih dahulu
3. Proses pembelajaran yang lebih bermakna
4. Memperhatikan gaya belajar yang dimiliki siswa
5. Miliki data profil siswa secara lengkap
Salah satu metoda pembelajaran yang coba kami kedepankan dalam rangka penerapan pembelajaran bermakna adalah metoda peta otak (mind map).
Metoda ini digunakan dengan pendekatan terhadap pengalaman belajar yang telah dialami siswa, dimana guru hanya menyampaikan tema dari materi yang menjadi bahan ajar, selanjutnya siswa secara bersama-sama mencari bahan ajar yang berhubungan dengan materi pembelajaran tersebut.
Guru hanya memfasilitasi dengan menuliskan pendapat-pendapat siswa pada papan tulis, sehingga semua pendapat siswa tertulis. Hal ini akan memberikan kepuasan kepada siswa yang pada akhirnya akan menumbuhkan kompetensi daya ingat jangka panjang.
Proses ini sesuai dengan pendapat “ belajar bukanlah mengkonsumsi tapi belajar adalah berkreasi”, Dave Meier, The Accelerated Learning, Kaifa, 2005.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tugas Guru
Guru dalam proses pembelajaran memegang peranan penting, yang tidak bisa digantikan oleh mesin atau alat paling canggih sekalipun. Alat yang canggih hanya berguna sebagai alat bantu saja dalam proses pembelajaran.
Namun harus kita sadari bahwa kemajuan teknologi dapat saja mengurangi peran guru dalam pembelajaran, tetapi itu semua tidak dapat menghapus peran guru secara total. Artinya dalam system pembelajaran secanggih apapun, guru selalu berada didalamnya, hanya perannya saja yang berbeda, sesuai dengan tuntutan system tersebut.
Dalam proses pembelajaran guru memegang peran dan tanggung jawab sebagai implikasi dan konsekwensi dari satu jabatan yang professional, yang merupakan unsure pembeda antara profesi guru dengan profesi lainnya. Oleh karena itu selayaknya guru memperhatikan 2 hal, yaitu; komponen-komponen pembelajaran dan tugas serta tanggung jawab guru.
- Komponen Pembelajaran
Ada 4 (empat) komponen utama kegiatan pembelajaran yang berpengaruh terhadap hasil belajar, yaitu :
- Raw input
- Instrumental input
- Enviromental input
- Expected output
Secara skematik komponen-komponen tersebut dapat kita lihat dalam gambaran di bawah ini :
KOMPNEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN
(Abin Syamsudin Makmun, 1996: 1995)
- Tugas dan Tanggung Jawab Guru
Secara sederhana tugas dan tanggung jawab guru dapat kita lihat sebagai berikut :
- Guru sebagai pengajar
- Guru sebagai pembimbing
- Guru sebagai administrator kelas
Ketiga tugas diatas merupakan tugas pokok dari profesi guru dalam konteks pembelajaran secara formal.
Sedangkan tugas guru yang lebih terinci lagi dapat kita lihat pada bagan dibawah ini :
BAGAN TUGAS GURU
![]() |
B. Persiapan
Agar pelaksanaan tugas dan fungsi guru dapat berjalan sesuai dengan harapan, hendaknya sebelum melaksanakan tugas pembelajaran guru melakukan persiapan terlebih dahulu agar proses pembelajaran menjadi lebih terarah, mangkus dan sangkil. Persiapan yang dilakukan minimal menyangkut 2 hal, yaitu ; administrasi dan kompetensi guru (pendalaman materi).
1. Persiapan Administratif
Persiapan administrative adalah persiapan yang menyangkut administrasi pembelajaran, baik yang berdurasi tahunan, semester, triwulan, maupun harian. Persiapan ini perlu dibuat dan dilihat kembali untuk mengetahui :
a. Program apa yang sudah dan belum dilaksanakan
b. Tingkat keberhasilan proses pembelajaran (daya serap siswa)
c. Target pencapaian materi
d. Alokasi waktu yang tersedia
e. Re-planning program (langkah antisipatif)
Terkait dengan keberhasilan pelaksanaan program pembelajaran, dapat kita lihat pada siklus di bawah ini.
Siklus Pembelajaran
Perencanaan
Refleksi Tindakan &
Pengamatan
Perencanaan Ulang
Refleksi Tindakan &
Pengamatan
Perencanaan ulang
Refleksi Tindakan &
Pengamatan
Hasil
2. Persiapan Kompetensi Guru
Persiapan yang berkaitan dengan kemampuan guru untuk menyampaikan suatu materi pembelajaran, dengan melakukan pengkajian, analisis, dan trial and error. Persaiapan yang paling sederhana dan mudah dilakukan adalah membaca kembali materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik (pendalaman materi).
Pendalaman materi sangat diperlukan untuk menyegarkan kembali pemahaman guru terhadap materi ajar, sekaligus juga untuk mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama untuk materi ajar yang bersifat social.
C. Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang mampu untuk meningkatkan kompetensi mengingat dalam kurun waktu yang panjang. Kemampuan ini dapat kita tumbuh kembangkan dengan menggunakan langkah pembelajaran sebagai berikut :
![]() |
1. Ice cool
Bagian dari apersepsi yang dilakuan diawal tatap muka dengan maksud mengarahkan perhatian dan konsentrasi peserta didik terhadap guru dan materi pembelajaran.
Ice cool dapat dilakukan dengan menyampaikan cerita lucu, puzzle, permainan matematik, atau menayakan tentang keadaan siswa saat ini.
Setelah konsentrasi siswa terpusat, kemudian guru menyampaikan tema belajar yang akan di bahas pada pertemuan ini
2. Penyampaian Tema Belajar
Pada tahapan ini guru hanya menyampaikan tema dari materi belajar dengan menuliskannya dipapan tulis, untuk selanjutnya guru melakukan eksplorasi pengalaman belajar siswa tentang tema yang dibahas.
![]() |

illustrated by Nana
3. Eksplorasi
Eksplorasi adalah usaha untuk menggali sebanyak banyaknya pengalaman belajar (pengetahuan) siswa terhadap materi yang sedang dibahas, karena sedikit banyak siswa sudah mengenal/mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan materi yang akan kita pelajari. Konsep ini dilakukan dalam rangka “guru masuk kedalam dunia siswa”
Kegiatan eksplorasi dilakukan dalam rangka :
a. Menempatkan siswa sebagai subyek ajar.
Kegiatan pembelajaran selama ini hanya berlangsung sebagai wahana transfer ilmu pengetahuan dari guru terhadap siswa, tanpa memperdulikan pengalaman belajar siswa sebelumnya. Hal ini menempatkan siswa sebagai bejana kosong yang harus diisi, pasien yang harus diobati oleh ilmu pengetahuan yang menjadi materi ajar.
Proses pembelajaran seperti ini terbukti hanya berhasil dalam kemampuan mengingat jangka pendek, tetapi tidak berhasil dalam kompetensi mengingat materi pelajaran dalam jangka panjang.
Peta otak (mind map) adalah metoda yang mampu menjawab tantangan diatas, karena dengan mengeksplorasi pengalaman belajar, akan menempatkan siswa sebagai subyek ajar, dimana siswa dapat membangun sendiri (outo constructif) pengetahuannya dengan berbekal pengalaman belajar yang telah diperolehnya selama ini.
Belajar bukanlah mengkonsumsi tapi belajar adalah berkreasi membangun pengetahuan diri, Dave Meier (2005).
Kendala yang ditemui pada tataran ini adalah :
1). Guru terjebak pada paradigma yang menempatkan siswa sebagai obyek ajar
2). Guru kurang berani menerapkan metoda ini, karena terpengaruh oleh target waktu
3). Target keberhasilan belajar masih bersifat normative, sehingga melupakan proses pencapaian keberhasilan belajar
Keterlibatan siswa secara langsung dalam pembangunan pengetahuan akan menjadikan pembelajaran lebih bermakna, karena walau bagaimanapun menjadi pemain itu lebih baik dari pada menjadi penonton, sesedrhana apapun permainan tersebut , Nana Sujana (1998)
b. Menempatkan guru sebagai fasilitator
Guru yang fasilitator adalah guru yang mampu memfasilitasi/ menjembatani siswa kearah pembentukan pengetahuan baru berdasarkan pengalaman belajar yang sudah dialami siswa terlebih dahulu.
Proses ini akan membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan nyambung dengan dunia pengetahuan siswa.
Kelemahan system pembelajaran sekarang, sering kita jumpai terputusnya hubungan antara materi dengan pengalaman belajar siswa sebelumnya, sehingga siswa merasa asing dengan materi belajar yang baru.
Keadaan ini akan membuat siswa merasakan kesulitan dalam belajar. Hal inilah yang harus dijembatani oleh guru, bagaiman membuat pembelajaran lebih teras mudah dan menyenangkan
Kegiatan eksplorasi pengalaman belajar siswa dilakukan dengan menuliskan pendapat siswa baik oleh siswa itu sendiri maupun oleh guru sebagai fasilitator.
![]() |

Ilustrasi peta otak
c. Keterlibatan Aktifitas Fisik, Emosi, dan Perasaan
Selama ini proses pembelajaran hanya berorientasi target penguasaan materi yang bersifat normative, sehingga meninggalkan proses pembelajaran yang seutuhnya, padahal ini hanya akan berhasil dalam kompetensi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Kegagalan ini disebabkan oleh kurang berperannya factor fisik, emosi, dan perasaan dalam proses pembelajaran.
Metoda mind map yang menuntut aktifitas fisik, dengan sendirinya akan melibatkan emosi dan perasaan, karena pada metoda ini, siswa dituntut untuk berani berbicara, mengeluarkan pendapat, dan beraktivitas yang tentunya akan mendapatkan kepuasaan apabila pendapat siswa itu terakomodir oleh guru sebagai fasilitator.
Keterlibatan aktifitas fisik, emosi, dan perasaan dalam proses pembelajaran akan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengalami langsung proses pembentukan pengalaman belajar tersebut.
Tingkat keberhasilan pengalaman belajar adalah 90 %, sebagaimana yang digambarkan oleh Dr. Vernon A. Magnesen (1983)
![]() |
“Kita Belajar :
90 % dari apa yang kita katakana dan lakukan
4. Kesimpulan sederhana/kesimpulan awal/Bargainning
Kesimpulan sederhana adalah kesimpulan hasil kesepakatan pengalaman belajar siswa, yang dilakukan oleh siswa itu sendiri dalam rangka mengkreasi pembentukan ilmu pengetahuan baru. Sampai pada proses ini guru masih berada dalam dunia siswa.
d. Kesimpulan akhir
Kesimpulan akhir ini dilakukan oleh guru, berupa penyempurnaan dari kesimpulan yang diutarakan siswa, berdasarkan konsep, pendapat, atau teori yang sebenarnya. Pada proses ini guru secara perlahan-lahan membawa anak kedalam dunia guru
e. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat pencapaian/daya serap siswa terhadap materi yang dijarakan, dengan jalan memberikan pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tugas, dan bentuk tagihan lainnya.
D. Gaya belajar siswa
Siswa sebagai mana layaknya manusia, siswa mempunyai gaya dan karakter masing-masing. Begitupun dalam belajar setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda, yang sudah barang tentu harus diketahui oleh guru sebagai fasilitator pembelajaran.
Adapun gaya belajar yang dimiliki siswa adalah sebagai berikut :
- Auditori
Siswa yang auditori adalah siswa yang hanya dapat menyerap pembelajaran melalui proses pendengaran (dengan mendengar). Siswa seperti ini memerlukan penjelasan yang jelas, terinci dan terstruktur untuk dapat memahami/menerima materi pembelajaran. Dalam memberikan penjelasan hendaknya guru menggunakan bahasa sederhana yang dapat dimengerti oleh siswa, jangan terlalu tinggi dan jangan terlalu banyak menggunakan bahasa atau istilah asing.
Ciri siswa auditori adalah :
a. Suka berbicara sendiri ketika belajar/bekerja
b. Lebih menyukai ceramah dari pada membaca buku
c. Lebih suka berbicara dari pada menulis
d. Lebih suka musik dari pada seni
e. Kata-kata khas “Aku mendengar apa yang dikatakannya”
- Visual
Gaya belajar visual memerlukan focus dalam proses pembelajaran untuk dilihat oleh peserta didik, baik yang berupa alat peraga, gambar, maupun catatan di papan tulis.
Siswa yang visual akan mengalami kesulitan bila ia harus mendengarkan atau menulis materi pelajaran.
Ciri siswa visual adalah :
a. Suka mencorat coret ketika berbicara
b. Berbicara cepat
c. Lebih suka melihat peta dari pada penjelasan
d. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
e. Kata-kata khas “ Menurut pandangan saya……”
- Kinestetic
Siswa yang kinestetik adalah siswa yang tidak mau diam pada saat belajar. Hasrat gerak pada siswa seperti ini cukup tinggi, sehingga bila hasrat tersebut tidak terpenuhi anak tersebut akan sulit menerima materi pembelajaran
Ciri siswa kinesthetic adalah :
a. Banyak menggerakan anggota tubuh ketika berbicara/belajar
b. Dapat menghapal sambil berjalan dan melihat
c. Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
d. Tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama
e. Kata-kata khas “ Saya merasa sepertinya……”
- Haptic
Haptic adalah gaya belajar yang menggunakan perasaan, hanya dengan kelembutan siswa dapat menerima materi ajar dengan baik. Siswa seperti ini biasanya berasal dari keluarga yang bermasalah atau keluarga yang manja.
Ciri siswa haptic adalah :
a. Kurang aktif, terkesan malas dan manja
b. Cenderung tertutup (introvert)
c. Butuh perhatian lebih
d. Malas berbibicara
Menghadapi perbedaan gaya belajar seperti ini sudah seharusnya guru menyiapkan strategi pembelajaran yang dapat mengakomodir keempat gaya belajar diatas, dengan :
1. Memberikan penjelasan yang terici dan berstruktur, serta menggunakan bahasa yang sederhana.
2. Penjelasan harus disertai dengan visualisasi baik catatan.gambar dipapan tulis maupun dengan menggunakan alat peraga pembelajaran
3. Memberikan tugas kepada siswa untuk menerangkan atau memperagakan kembali apa yang sudah diberikan oleh guru sebelumnya, atau menuliskan pendapat yang merupakan pengalaman belajar siswa
4. Gunakan bahasa yang lembut dan sopan agar siswa terdorong untuk mau melaksanakan tugas yang diperintahkan guru.
E. Data profil siswa
Data profil siswa adalah data yang menyangkut keseluruhan tentang siswa, baik yang berhubungan dengan data diri siswa, orang tua, latar belakang, dll.
Data ini perlu dan harus dimiliki oleh guru agar dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan dapat sesuai dengan proporsi siswa.
Seluruh data siswa ini sebenarnya sudah tertera dalam Buku Induk yang tentunya dimiliki disetiap sekolah, akan tetapi data ini hanya untuk kepentingan administrative saja, kita masih kurang memaksimalkan data ini untuk manfaat yang lainnya, termasuk didalamnya adalah sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan/tindakan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pendidikan adalah usaha yang dilakukan untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan jangka panjang. Untuk sampai pada tujuan tersebut perlu kiranya kita memberikan pendidikan secara bermakna, agar informasi pendidikan tidak hanya dapat diingat dalam jangka pendek, melainkan diingat dalam jangka panjang.
Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang melibatkan aktifitas, fisik, emosi, dan perasaan, selain factor intelegensi yang tetap menjadi factor utama.
Kita dapat membuktikan bahwa setiap perbuatan yang melibatkan factor-faktor diatas akan sulit hilang dari ingatan kita.
Metode peta otak (mind map) adalah sebuah pendekatan yang memfasilitasi kita pada pembelajaran bermakna, karena metoda ini memang membutuhkan keterlibatan factor-faktor diatas.
Metode ini akan membuat siswa mencari sendiri ilmu pengetahuan (berkreasi), dan tidak membuat siswa mendengarkan pengetahuan (mengkonsumsi).
B. Saran
Agar proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, hendaknya kita harus :
- Melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran
- Membuat scenario pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk menggali sendiri pengetahuannya (student construct knowledge by him)
- Menempatkan siswa sebagai orang yang telah mempunyai pengalaman belajar
- Menampung/mengakomodir setiap pendapat siswa, karena hal ini akan memberikan kepuasan kepada peserta didik
- Sedapat mungkin melibatkan aktifitas fisik daslam setiap proses pembelajaran
- Membimbing siswa secara perlahan-lahan untuk sampai pada sebuah kesimpulan.




