Senin, 21 September 2020

MEMBANGUN KINERJA TAS DENGAN "SMART"


 

Tenaga Administrasi Sekolah (TAS) merupakan bagian daripada tenaga kependidikan yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari efektifitas program sekolah.

TAS merupakan non teaching staff yang bertugas mendukung proses pendidikan di sekolah melalui layanan administratif guna terselenggaranya proses pendidikan yang efektif dan efisien di sekolah.

Pasal 39 ayat 1UU Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa “Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.”

Menurut Kuncoro (2002) Tenaga Administrasi Sekolah merupakan pelayanan yang berfungsi meringankan (facilitating function) terhadap pencapaian tujuan aktivitas substantif. Setiap organisasi, apapun bentuk, jenis, corak, dan tujuannya terdiri atas dua pekerjaan yaitu aktivitas substantif dan pekerjaan kantor. Organisasi sekolah mempunyai aktivitas substantif berupa pembelajaran dan pekerjaan kantor berupa administrasi sekolah.

Kegiatan administrasi sekolah dalam ruang lingkup yang lebih luas dilakukan melalui proses kerjasama oleh dua orang atau lebih menurut sistem tertentu untuk menunjang pencapaian tujuan organisasi yang ditetapkan.

Adapun kegiatan administrasi sekolah sebagai berikut :

1.     Bidang administrasi material: kegiatan administrasi yang menyangkut bidang-bidang materi. Seperti: ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, alat-alat perlengkapan.

2.     Bidang administrasi personal, yang mencakup di dalamnya persoalan guru, pegawai sekolah dan peserta didik.

3.     Bidang administrasi kurikulum, yang mencakup didalamnya pelaksanaan kurikulum, pembinaan kurikulum, penyusunan silabus, perisapan harian, dan sebagainya.

 

Mengingat peran dan fungsi TAS yang sangat strategis, untuk memenuhi tuntutan tersebut dipersyaratkan kualifikasi dan kompetensi TAS.

Pemenuhan standar kualifikasi dan kompetensi standar menurut Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah, prinsip yang harus dipenuhi adalah prinsip efisiensi, keefektifan (effectiveness), dan kualitas pelayanan. Di samping itu, yang tidak kalah pentingnya adalah prinsip fokus pada penyelarasan kewenangan dan tanggungj awab sebagai kunci peningkatan kinerja. Beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh TAS adalah :

1.         Dimensi kompetensi kepribadian meliputi: kompetensi memiliki integritas dan akhlak mulia, etos kerja, pengendalian diri, percaya diri, fleksibilitas, ketelitian, kedisiplinan, kreatif dan inovasi, tanggung jawab.

2.         Dimensi kompetensi sosial meliputi: kompetensi untuk: bekerja dalam tim, pelayanan prima, kesadaran berorganisasi, berkomunikasi efektif, dan membangun hubungan kerja.

3.         Dimensi kompetensi teknis meliputi: kompetensi untuk melaksanakan administrasi kepegawaian, keuangan, sarana prasarana, hubungan sekolah dengan masyarakat, persuratan dan pengarsipan, administrasi kesiswaaan, administrasi kurikulum, administrasi layanan khusus, dan penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

4.         Dimensi kompetensi manajerial (khusus bagi kepala TAS) meliputi kompetensi untuk: mendukung pengelolaan standar nasional pendidikan, menyusun program dan laporan kerja, mengorganisasikan 

PENSIL

PENSIL

1.    Pensil utuh

2.    Pensil sudah diserut

3.    Pensil 3/4

4.    Pensil 1/4

 


Pensil utuh, tampak bagus, berharga tapi belum berguna dan belum memiliki arti apa apa, ketika hilang, ya hilang saja paling kita beli lagi.

Tidak ada kenangan, tidak ada memori yang digores. Kita tidak dapat melihat kekuatan dan kepekatan pensil tersebut, selain tampilannya yang elegan.

 

Begitupun seorang guru,

Ketika seorang guru hanya tampil elegan, anggun tanpa bisa berbuat untuk menggoreskan pengetahuan pada ruang tabularasa anak, maka keberadaannya relative tidak berarti apa-apa. Ketika ia pergi, yang tertinggal hanya rupa dan nama. Kita tidak melihat kompetensi yang dimilikinya.

 

Pensil utuh yang diserut, adalah pensil elegan yang sudah siap untuk dipergunakan, tapi belum dipakai, kalau toh sudah digunakan mungkin hanya goresan kecil tanpa kita tahu kekuatan dan kepekatannya. Ketika pensil itu patah, kita berusaha untuk menajamkannya kembali agar bisa membuat goresan

 

Guru seperti ini adalah guru yang relative minim pengalaman, jam terbangnya rendah.

Ketika ada kegagalan dia berupaya mengulang kembali apa yang sudah dikerjakan tanpa ada improvisasi dan kreativitas. Guru seperti ini biasaya menyalahkan kegagalan pada siswa. Padahal harus kita sadari bahwa “tidak ada anak yang gagal dalam pembelajaran, tetapi karena dia tidak mendapatkan guru yang tepat”

 

Tapi dari sisi program guru seperti ini sudah berupaya menyusun/membuat program yang terencana, terinci, dan terukur agar dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik. Tetapi, program sebaik dan sehebat apapun tidak ada artinya tanpa sebuah kecerdasan untuk mengimplementasikannya dihadapan siswa.

 

 

Pensil 3/4, adalah pensil yang sudah sering digunakan, sudah banyak goresan yang dihasilkan, mungkin sudah beberapa patah, tapi beberapa kali pula dilakukan upaya menajamkan kembali, bahkan mungkin pensil itu bisa patah sewaktu diserut.

 

Guru seperti ini adalah guru yang sudah mulai belajar dari pengalamannya, mulai bekerja keras dan berupaya untuk memperbaiki kinerjanya.

Informasi, contoh, pengalaman sudah digunakan dalam proses pembelajaran, tetapi masih rendah dalam inovasi dan kreativitas. Ketika kejenuhan mulai dirasakan, yang terjadi adalah kembali kepada rutinitas yang monoton.

Kondisi seperti ini butuh treatment dan penyegaran untuk membangun kecerdasan berinovasi.

 

Pensil 1/4, adalah pensil yang jelak, sudah lama digunakan, sudah sering patah, sering jatuh bahkan sering terselip karena bentuknya yang sudah pendek.

Banyak luka dan serpihan kayu yang sudah tanggal Tetapi goresan yang dihasilkan sudah sangat banyak, ketika patah kita dengan cepat menajamkannya kembali, pensil yang seperti ini biasanya pensil yang disayang oleh pemiliknya karena sudah banyak jasanya, ketika pensil ini patah atau terselip pemiliknya tidak pernah berpikir untuk membeli yang baru, karena rasa cintanya terhadap pensil tersebut.

 

Guru seperti ini adalah guru yang sudah memiliki jam terbang tinggi, pengalaman yang hebat serta pengetahuan yang luas.

Kegagalan demi kegagalan yang dialami tidak pernah membuat patah semangat, justru menjadi tantangan untuk mengembangkan kreativitas.


MAINTENANCE PENDIDIKAN

 

MAINTENANCE PENDIDIKAN

(Nana Supriyatna, S.Pd., MM)

 

 

Tulisan ini adalah pengembangan dari tulisan (chat) group whatsapp sekolah yang ditulis oleh Dra. Vera Varianti M.Pd (kepala SMAN 1 Tenjolaya. Kabupaten Bogor), dan dikutip dari berbagai sumber.

 

Ada hal menarik yang perlu disikapi oleh semua komponen sekolah untuk mengkoordinir kinerja bawahhnya sebagai langkah estafet manejerial dari kepala sekolah yaitu MAINTENANCE.

Terkadang kita mengartikan sempit tentang maintenance ini sebagai pemeliharaan fisik semata. Sungguh itu sesuatu yang keliru. Dalam arti sempit maintenance dapat diartikan sebagai suatu pemeliharaan terhadap komponen yang dilakukan secara berkala dalam periode tertentu sehingga dapat meningkatkan keandalan dari komponen tersebut serta mencegah terjadinya breakdown dari komponen tersebut.

Dalam arti luas bisa dimaknai banyak seperti yang pernah diungkap oleh para pakar manajemen. Ketika sesuatu telah diperbaiki, telah disediakan, telah diubah, telah dibuat, dst, maka maintenance memiliki makna, khususnya era saat ini dan bahkan menyambut industri 5.0:

Lalu apa hubungannya dengan pendidikan yaa ???

Secara umum dalam pendidikan juga memiliki kriteria keandalan, keandalan yang seringkali diidentikkan dengan kualitas pendidikan itu sendiri. Kualitas atau keandalan dari suatu pendidikan dipengaruhi oleh komponen-komponen (stakeholder) yang terlibat di dalamnya.

Untuk mencapai keandalan yang optimal diperlukan metode maintenance yang optimal pula. Dalam sebuah sistem pabrik seringkali maintenance yang mendapat perhatian lebih adalah major component atau komponen utama yang paling berpengaruh terhadap jalannya sistem. Dalam ABC cost (pareto chart), hal ini diibaratkan sebagai A komponen. A komponen diartikan sebagai 20% dari jumlah komponen yang memberikan dampak hingga 80% terhadap output.

Sama seperti komponen mesin, dalam pendidikan banyak faktor yang berpengaruh dalam kualitas pendidikan itu sendiri, misalnya anak didik, orang tua, guru, kesediaan tempat belajar, fasilitas yang memadai, biaya, kurikulum pendidikan, ujian, dll. Dari berbagai faktor itu, melalui metode pengamatan, referensi, serta wawancara langsung, disimpulkan bahwa anak didik, guru, dan orang tua (sumber daya manusia) menempati peringkat 1,2, dan 3 dalam faktor berpengaruh dalam kualitas pendidikan itu sendiri (A komponen). Oleh karena itu perbaikan paling optimal adalah dengan memperbaiki ketiga faktor tersebut.

Anak didik diibaratkan sebagai input pendidikan yang akan diproses untuk menghasilkan output yang sesuai dengan keinginan. Sedangkan orang tua dan guru merupakan black box production, yang akan memproses anak didik sebagai input pendidikan. Dalam hal ini, harus ditumbuhkan sinergi antara anak didik dan orang tua maupun guru dalam menjalankan masing- masing perannya.


Bahan baku bagus tidak akan menghasilkan output yang bagus apabila tidak diproses seecara baik. Bagitupun bahan baku yang kurang bagus pasti akan menghasilkan ouput yang kurang bagus pula meskipun prosesnya dilakukan dengan maksimal.

Namun yang perlu ditekankan disini adalah bahan baku yang dipakai industri biasanya merupakan bahan baku yang pasti dan bukan varian baru. Dalam pendidikan Anak didik diibaratkan sebagai produk yang baru mengalami fase kelahiran dimana grafiknya akan cenderung turun untuk mencapai titik tertentu (meminimalkan biaya, memperbaiki kualitas, dll). Mereka diibaratkan mencari titik tertentu (jati diri atau kemampuan mereka) sehingga dalam hal ini tidak pernah ada sebutan input yang kurang bagus. Black box process akan membentuk mereka sampai mencapai titik tertentu yang kemudian perkembangan komponen  tersebut stabil dalam jangka waktu yang lama hingga akhirnya mengalami fase penurunan (kematian). Oleh karena itu black box process merupakan salah satu elemen yang penting.

Dalam kasus ini kita coba memfokuskan pada input proses itu sendiri (anak didik) yang merupakan penentu utama keberhasilan. Sebagai produk baru yang masih belum mengetahui jati dirinya, peta persaingan pasar, dan lain-lain. Oleh karena itu, hal terpenting adalah menumbuhkan dimana passion anak didik tersebut sesuai dengan keinginannya.

Saya sepakat dengan opini yang mengatakan anak didik berhak memilih sendiri mata pelajaran yang ingin dipelajari, atau setidaknya ada mata pelajaran tertentu yang dia senangi. Hal ini akan lebih mudah diterapkan terutama dalam peningkatan bidang softskill.

Memilih sesuai minat bakatnya sangat cocok diterapkan pada input yang sadar akan kemampuan dirinya, namun bagaimana kasusnya jika input tersebut tidak sadar? Black box process memiliki kewajiban untuk membimbing hal tersebut. Guru seharusnya memiliki kemampuan dalam hal tersebut. Ibaratnya pabrik untuk meningkatkan produksinya maka cost yang dikeluarkan juga lebih banyak.

Dalam dunia industri hal yang paling efektif adalah ketika kualitas dan biaya bertemu dalam satu titik equilibrium (keseimbangan). Seharusnya hal ini bisa diterapkan dalam dunia pendidikan. Kualitas pendidikan biasanya diukur melalui proyeksi peningkatan jenjang pendidikan dan perekonomian. Peningkatan ini yang bisa dijadikan patokan untuk meningkatkan biaya bidang pendidikan.

Dalam manjemen terdapat istilah maintenance reliability. Maintenance pada anak didik diibaratkan sebagai pemberian penanganan (treatment) khusus yang akan mencegah rasa bosan dan lelah dalam proses belajar. Dalam dunia industri maintenance antara komponen dilakukan secara beda baik waktu maupun perlakuan. Harusnya sebagai manusia, anak didik juga mendapat maintenance yang berbeda-beda sesuai dengan spesifikasi (kebutuhan)nya. Maintenace anak didik dapat dicontohkan misalnya seperti pemberian games, outbond, motivasi, dll, hal yang tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran.

Dalam pelaksanaannya maintenance biasanya dilakukan berdasarkan standard time dari time failure dimana satu jenis komponen seringkali memiliki standard time yang sejenis. Hal yang sama kemungkinan bisa diterapkan dalam bidang pendidikan.

Anak-anak dalam usia, tingkatan, atau kondisi yang sama memiliki standard time sendiri-sendiri dan tidak bisa disamakan. Anak-anak berkebutuhan khusus biasanya memiliki stadard time yang lebih rendah dalam bidang akademik, namun bisa lebih tinggi dalam bidang lainnya.


Pengklasifikasian golongan anak berdasarkan tingkatan atau keadaaan penting untuk mengetahui tata cara pemberian treatment yang sesuai.

Dalam bidang reliability setiap komponen pasti memiliki kelebihan dibanding komponen lainnya dimana masing-masing komponen saling melengkapi. Hal ini berlaku bagi anak didik, anak- anak yang dianggap berkekurangan pasti memiliki suatu kelebihan (kemungkinan non bidang mata pelajaran) tersendiri dibanding anak-anak yang dianggap mempunyai kelebihan (dalam bidang pelajaran). Dalam film i’m not stupid yang sangat inspiratif, percaya tidak ada anak yang tercipta untuk bodoh. Dalam hal ini mutlak yang harus melakukan perbaikan adalah elemen black box process.

Untuk mengetahui reliability anak didik biasanya dilakukan reliablity testing. Reliablity testing adalah melakukan uji keandalan dengan melakukan parameter uji coba terhadap anak didik tersebut. Masing-masing anak didik memiliki perlakuan uji keandalan yang berbeda-beda. Setiap anak didik seharusnya memiliki paramter uji sendiri-sendiri sesuai kemampuan mereka. Tidak mungkin orang yang pintar agama (misal guru agama) uji coba yang dilakukan berupa mata pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dll. Tidak seharusnya anak-anak yang sekolah 2 jam sehari parameter uji cobanya sama dengan anak-anak yang bersekolah 8 jam sehari. Dan juga seharusnya tidak bisa disamakan anak-anak dari perkotaan dengan dari pedesaan atau pedalaman parameter uji cobanya disamakan dengan anak-anak kota yang budayanya lebih terbuka karena potensi alam, pola pikir, cara pandang, dan budaya yang sangat berbeda. Uji keandalan perlu dilakukan namun seharusnya uji keandalan sesuai dengan potensi anak didiknya.

Dalam hal ini uji keandalan seharusnya dilakukan oleh sekolah mengingat mereka yang lebih tahu kondisi anak didiknya dan berhak mengarakan anak didiknya sesuai potensi daerah/sekolahnya.

Dalam bidang reliability sendiri butuh preventive maintenance yang dilaksanakan secara berkala. Misalnya sebuah motor pasti setiap berapa bulan sekali dilakukan perawatan. Hal ini berlaku bagi manusia, walaupun dengan durasi yang tidak sering, manusia sebaiknya mengkonsumsi minuman berenergi untuk mendukung dan meningkatkan stamina tubuh sehingga mampu meningkatkan nilai reliabilitynya. Dalam pendidikan, out bond, rekreasi, belajar di alam, diskusi dengan guru (terutama BK) merupakan preventive maintenance yang harus dilakukan untuk kembali menyegarkan dan menambah gairah belajar anak.

Ketika sesuatu telah diperbaiki, telah disediakan, telah diubah, telah dibuat, dst maka barulah maintenance memiliki makna, khususnya era saat ini,era industri 5.0:

1.                   Digitalisasi Pendidikan

Era Revolusi Industri 4.0 sudah sangat kita kenal dimana semua produk mulai elektronik, makanan, sampai jasa transportasi sudah diakses melalui gadget dari anak-anak hingga orang dewasa. Begitu juga orang tua di era revolusi 4.0 agar anaknya tidak menangis maka dikasih gadget biar anak-anak tidak menangis. Berbeda sebelum revolusi 4.0 dimana permainan anak-anak lebih kepada mengadu ketangkasan, misalnya main petak umpet, main bola dan lain-lain.

Namun demikian, semua pihak diharapkan mampu bersinergi dengan kemajuan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan beradaptasi dengan perkembangan Digitalisasi dunia. Secara global Digitalisasi sangat berpengaruh terhadap kehidupan, serta menjadi


kebutuhan pokok bagi setiap kalangan. Orang tua tentu untuk lebih konsisten mengontrol perkembangan dan perubahan sikap anak, hal ini bertujuan agar anak-anak tidak sampai candu dengan gadget. Salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak malas adalah akibat candu gadget yang mengakibatkan mental anak-anak terganggu, yang pada akhirnya menjadi penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu kontrol orang tua sangat diperlukan untuk terhindar dari hal yang dimaksud.

Dalam dunia pendidikan, mulai perangkat pembelajaran sampai dengan metode pembelajaran tidak lepas dari pengaruh Digital. Lalu bagaimana dengan guru dan praktisi opendidikan lainnya ?. Jika era industry 4.0 menekankan perkembangan industry digital, maka era industry 5.0 lebih menekankan pada konteks manusianya.

Digitalisasi Pendidikan adalah proses menerapkan dan memanfaatkan digital dalam pembelajaran, mulai sistem pendidikan, kurikulum hingga perangkat administrasi pendidikan. Dengan Digitalisasi pendidikan diharapkan memudahkan pelaku pendidikan dan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Untuk menghasilkan lompatan kemajuan dalam pendidikan Nasional, maka tantangan Revolusi 4.0 serta pasar bebas Global mesti dihadapi.

Kemampuan anak-anak dalam menguasai Informasi Tehnologi (IT) perlu di pantau agar tidak salah dalam pemanfaatannya. Kita harus mampu mengarahkan anak-anak dalam pemanfaatan IT, kapan dan dimana tempatnya. Untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki peserta didik, pelaku pendidikan diharapkan melakukan kajian, diskusi dan pelatihan khusus agar bisa mengarahkan pemanfaatan IT dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan perangkat pembelajaran diharapkan merata sampai ke kalangan bawah, peserta didik ditempat tinggalnya harus diberi pemantauan khusus (apakah onspot atau blank spot).

Rencana penghapusan Ujian Akhir Nasional (UAN) oleh Menteri Pendidikan merupakan bentuk komitmen dalam mengembangkan pendidikan secara nasional. Tolak ukur keberhasilan siswa tidak dinilai dari hasil Ujian Akhir tetapi faktor keseharian juga sangat berpengaruh, etitute, afektif dan psikomotorik juga mempengaruhi hasil keberhasilan siswa. Standar keberhasilan siswa tentu akan diterapkan model standar keberhasilan siswa diluar negeri, etitute dan psikomotorik tentu harus dibarengi agar setelah selesai sekolah ada kemampuan yang dimiliki.

Oleh karena itu, setiap pembelajaran dan penyajian materi diharapkan memanfaatkan Media, seperti komputer, proyektor dan penyajian materi menggunakan power point agar siswa mudah memahami. Dalam penyajian materi diharapkan bukan proses transfer ilmu semata, namum diharapkan siswa mampu mengembangkan kemampuan dalam menguasai teknologi.

Jadi, kita semua harus berubah dengang memanfaatkan teknologi elektronik. Kita wajib belajar untuk bisa berubah dan mengikutinya jika tak ingin ketinggalan. Digitalisasi dlm semua aspek (administrasi, pelayanan, perpustakaan, laboratorium semua harus seba digital. Bukan hanya di masa covid-19.

Seyogyanya dari awal kita harus sudah berubah, karena guru adalah agen perubahan


2.                   SDM dan Budaya;

Menyikapi perubahan di semua aspek seharusnya pola berpikir kita sebagai pelaku di dunia pendidikan juga berubah. Jangan bangga dengan mindset ortodok sebagai sebuah kebenaran. Karena nyatanya perubahan itu mengarah pada perubahan sikap, perilaku bahkan budaya dan peradaban. Sebagi contoh, terkadang hal kecil dari pembiasaan, sikap teratur, disiplin dan bersih, akan berpengaruh pada sikap kita terhadap lingkungan dan prasarana yang ada. Sebagus dan secanggih apapun prasarana yang disediakan, jika tidak mampu memeliharanya tetap saja akan menjadi rusak walau mungkin tidak dalam waktu singkat. Komputer yang tidak terpelihara, penggunaan yangg serampangan, berserakan dengan buku dan kertas, lingkungan yang kotor, tidak menempatkan alat pada tempatnya, ini akan cepat menimbulkan kerusakan bahkan kehilangan.

Intinya seberapa mampu kita memelihara alat dan lingkungan kita?. Seberapa efisien pemanfaatan biaya untuk itu?. Bukankah semua itu harus dibeli dengan anggaran yang harus dipertanggungjawabkan?. Akhisrnya banyak anggaran yang akan digunakan untuk itu jika kita tak mampu berlaku hemat.

Akhirnya semua itu kembali lagi pada perilaku kita untuk hidup bersih, disiplin dan teratur. Ketinggian budaya dan peradaban ditentukan dari seberapa tinggi manusi peduli terhadap lingkungan, sarana dan prasarana, serta seberapa tinggi SDM kita.

SDM adalah kemampuan seseorang dalam mengadaptasi perkembangan zaman dan mengadopsinya untuk melahirkan inovasi-inovasi tanpa meninggalkan budaya yang berlaku.

Jika kita mampu beradaptasi dengan perkembangan budaya (teknologi) maka kita akan semakin mudah dalam berkarya, tetapi jika tidak, kita akan mengalami kesulitan dan bahkan akan tertinggal. Teknologi diciptakan untuk mempermudah bukan mempersulit, kesulitan hanya akan dirasakan oleh orang yang tidak mau berkembang. Janganlah terjadi kondisi man behind the gun.

 

3.                   Business.

Business (bisnis) adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh perorangan atau juga organisasi yang melingkupi aktivitas produksi, pembelian, penjualan, atau juga pertukaran barang/jasa, dengan tujuan untuk bisa mendapatkan keuntungan atau laba.

Menurut Jeff Madura; bisnis ini merupakan suatu perusahaan yang menyediakan produk atau juga jasa(layanan) yang diinginkan oleh para pelanggan.

Menurut Brown dan Pretello: bisnis ini merupakan suatu lembaga yang menghasilkan barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan juga seluruh hal yang mencakup segala bidang usaha yang dilakukan pemerintah atau juga swasta tidak peduli itu mengejar laba maupun tidak.

Jadi jangan diartikan sempit, atau berbiacara untung dan rugi dalam jangka panjang. Bagaimana kita membangun kemandirian dari hal-hal yang sudah dikelola dengan bermutu. Pembelajaran yang berkualitas, SDM yang berkualitas, sarana dan prasarana yang berkualitas, sampai pada lulusan yang berkualitas. Ini adalah langkah awal berbisnis agar sekolah kita memiliki nilai jual dengan input yang berkualitas dari semua segi, dll.


Dari pendapat diatas ada kata kunci yang bisa kita ambil, yaitu lembaga, produksi, pelanggan, dan keuntungan

SMAN 1 Tenjolaya sebagai lembaga pendidikan merupakan produsen dari output pendidikan, bagaimana kualitas outputnya, tergantung dari proses produksinya. Proses produksi dipengaruhi oleh kualitas SDM dan kualitas sarananya.

Hukum bisnis menyatakan bahwa jumlah penjualan adalah sama dengan permintaan, tapi harus diingat deferensisi pemintaan suatu produk adalah kualitas.

Di sekitar kita banyak sekali lembaga pendidikan setingkat SMA yang sudah berdiri jauh sebelum SMA 1 Tenjolaya berdiri. Mereka mempunya keunggulan local; alumni yang sudah banyak (bahkan ada ynag jadi guru), keterikatan kekerabatan, dan lebih dekat secara psikologi dengan masyarakat.

Ini adalah tantangan yang harus kita lawan untuk menunjukan eksistensi sekolah kita. Tentunya perlawanan ini bukan seperti peperangan atau permusuhan tetapi perlawanan untuk mengalahkan keunggulan mereka.

Ketiga keunggulan mereka mustahil untuk kita kalahkan, tetapi ada satu ruang yang bisa kita lakukan untuk mengalahkan mereka tanpa menyakiti, yaitu MUTU/KUALITAS.

Menurut ISO-8402 (Loh, 2001:35), Kualitas adalah totalitas fasilitas dan karakteristik dari produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan, tersurat maupun tersirat.

Jadi produk yang berkualitas hanya dapat dihasilkan oleh proses yang berkualitas yang ditangani oleh orang orang yang berkualitas dan sarana yang berkualitas pula. Produk berkualitas biasanya memiliki nilai jual yang tinggi dan diburu orang “KFC hanya dagang goring ayam, tapi kenapa mahal ?, karena diproduk secara berkualitas oleh tenaga professional dengan konsep mengedepankan kepuasan pelanggan”

Secara sederhana dapat kita terjemahkan bahwa anak didik yang berkualitas hanya dapat dihasilkan dari proses yang berkualitas ditunjang oleh guru dan sarana yang berkualitas, dengan target memenuhi harapan orang tua dan masyarakat.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita ini hanya goring ayam atau fried chicken?

Janganlah bertanya seberapa hebat kualitas anak didik kita?, tapi mari kita instrospeksi seberapa hebat kualitas kita?, karena kualitas anak didik adalah cerminan kualitas kita. Peralatan memang sangat menunjang dalam pembentukan kualitas anak didik, tetapi ditangan guru yang berkualitas kekurangan sarana bisa ditengahi, dicarikan solusi bahkan kalau mungkin dengan membuat sarana yang sederhana dengan melibatkan siswa. Jadi tetap saja kita (guru) adalah yang utama, kita adalah blac box process.

Lalu dengan cara apa kita meningkatkan kualitas?

Sebagai seorang muslim tentunya kita harus menyadari bahwa kewajiban kita belajar itu dari semenjak ayunan sampai kita meninggal

Belajar tentunya merupakan keharusan, kita adalah pembelajar, maka kita harus selalu belajar. Membaca, berdiskusi, seminar, MGMP, lokakarya adalah ruang bagi kita untuk meningkatkan kualitas. Terapkan apa yang anda peroleh dari itu semua, sesuaikan dengan kebutuhan dan budaya local. Karena membaca, berdiskusi, seminar, MGMP dan


lokakarya itu adalah nuansa teoritis, Praktiklah yang akan membuat kita matang dan bermutu.

Mungkinkah kita mampu mendorong anak belajar kalau kita bukan pembelajar? Mungkinkah anak menjadi literat kalau kita tidak literat ?

Kalau kita ibaratkan kendaraan, anak didik adalah penumpang dan kita adalah pengemudinya, kalau kita hanya tahu kota Jakarta maka kita hanya akan membawa mereka ke Jakarta, tetapi kalau kita tahu dunia itu luas maka kita akan membawa mereka keliling dunia

Semua itu adalah bagian dari maintenance, Pertanyaan kita adalah mampukah kita

memaintenance diri menjadi berkualitas agar semua komponen juga berkualitas??

Mulai dari hal  kecil,  mulailah  dari  diri  sendiri,  dan  mulailah  dari  sekarang.  Kalau  itu  terjadi  subhanallah !

Semoga kita semua berubah dan menjadi smart sebagai insan pendidikan.

 

 

-                        Terimakasih kepada Ibu Dra. Vera Varianti yang sudah mengilhami saya mengembangkan tulisan ini

-                        Terimakasih pula kepada guru guru dan TAS SMAN 1 Tenjolaya yang selalu bekerja keras untuk meningkatkan mutu sekolah

 SMANESTA SARUPI KONSEP PENGEMBANGAN SMAN 1 TENJOLAYA (Nana Supriyatna, S.Pd., MM) Kepala TAS SMAN 1 Tenjolaya SMA Negeri 1 Tenjolaya (SMANESTA) kabupaten Bogor, merupakan salah satu sekolah yang berada di kawasan pegunungan dengan latar belakang masyarakat sosial ekonomi marginal. Sekolah ini hadir ditengah tengah tumbuhnya sekolah-sekolah kecil swasta di kawasan itu yang ikut berperan serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, membuka wawasan serta orientasi pendidikan masa depan bagi masyarakat sekitar, dengan harapan menciptakan kehidupan yang lebih berkualitas. Didirikan pada tahun 2012 sebagai kelas jauh SMAN 1 Dramaga, dengan sumberdaya yang sangat terbatas mempersiapkan diri dalam memenuhu prasyarat legaltas sekolah mandiri. Setelah berjalan lebih kurang 3 tahun, tepatnya tanggal 1 Oktober 2015 terbitlah SK Penegrian Sekolah Nomor 421.3/411/Kpts/Per-UU/2015 tertanggal 1 Oktober 2015. Dengan Bp. Asep Setiawan S.Pd., MM sebagai kepala sekolah pertama Sebagai sekolah dengan kategori baru di Kabupaten Bogor, tentunya memerlukan perencanaan matang untuk melangkah terus dalam memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Secara fisik perlu perluasan dan pengembangan berkelanjutan di atas lahan 7.573 m2 dengan berpedoman pada masterplan sekolah. Belum banyak prestasi yang dapat dicapai mengingat secara struktur - akademik masih tergolong sekolah baru dengan tantangan baik secara eksternal maupun internal yang memerlukan penanganan dengan strategi tertentu. Akan tetapi semangat yang terus digelorakan oleh kepala sekolah, memacu semangat dan loyalitas kerja guru dan tenaga administrasi sekolah(TAS) SMAN 1 Tenjolaya. Kepala sekolah pertama (Bp. Asep Setiawan S.Pd. MM) dengan motto SMANESTA BISA, memiliki semangat dan prinsip “Harus Bisa” walaupun kondisi sekolah serba kekurangan, baik sarana, prasarana serta tenaga pendidik dan kependidikan. Bisa dikenal masyarakat, bisa membangun link, dan bisa membangun gedung sekolah. Dan pada era beliaulah kami memiliki Unit sekolah baru yang relative lengkap dengan 9 ruang kelas, 1 unit kantor, 1 unit lab dan 1 unit perpustakaan. Keberhasilan ini berefek sangat signifikan terhadap kepercayaan masyarakat, sehingga lambat laun peserta didikpun semakin bertambah. Pada tahun 2018 terjadi pergantian kepala sekolah, Ibu. Dra. Vera Varianti. M.Pd melanjutkan kepemimpinan pak Asep, dalam kondisi sekolah sudah cukup berkembang, terutama dalam hal pembangunan pisik. Dengan pengalamannya, beliau memiliki misi SMAN 1 Tenjolaya “Harus Juara”. Banyak perubahan dan inovasi yang dilakukan baik sarana maupun personal, layanan pendidikan ditingkatkan, pembinaan kompetensi guru dan tendik menjadi prioritas, proses belajar dikendalikan dengan tujuan “SMANESTA JUARA”. Pada periode ini kami banyak berpartisipasi pada setiap perlombaan dan kejuaraan, walau masih sedikit yang bisa kita menangkan. Memang belum banyak piala dan trophy yang diraih, tapi SMANESTA berada di jalur menuju juara. Pada tanggal 10 Juli 2020 kembali terjadi pergantian kepala sekolah, dari ibu Dra. Vera Varianti. M.Pd kepada Bp. H. Elan Suherlan, S.IP., M.H yang sebelumnya menjabat sebagai kepala SMAN 1 Cigombong. Sebagai orang yang pernah memimpin 3 sekolah, dengan kondisi yang berbeda, ditambah dengan pengalaman beliau mengisi berbagai jabatan selama menjadi guru, menjadi modal besar dalam merealisasikan visi dan misi SMAN 1 Tenjolaya. Dalam kacamata beliau, dengan berbagai perubahan dan inovasi pendahulunya SMAN 1 Tenjolaya harus “Bisa Juara”. Tentunya untuk menuju tangga juara harus ada kesamaan semangat, visi, dan tujuan dari seluruh keluarga besar SMAN 1 Tenjolaya. Maka lahirlah motto “SMANESTA SARUPI” Pergantian motto dari yang pertama sampai terakhir bukanlah suatu perubahan atau pergantian, akan tetapi semuanya saling melengkapi sesuai dengan kondisi sekolah yang ada. SARUPI secara harfiah berasal dari bahasa sunda, yang artinya serupa, sama, tidak ada perbedaaan semangatnya adalah “Hanya dengan kebersamaan kita bisa membawa SMAN 1 Tenjolaya menjadi Juara”. Itulah semangat yang harus terpatri kuat dalam diri guru dan tenaga kependidikan SMAN 1 Tenjolaya. Untuk menjadi juara kita harus SARUPI (Seueur Atikan Rea Upaya Prestasi Katepi), jadi dengan memperkaya pengetahuan dan keterampilan (atikan) serta banyak inovasi yang dilakukan (upaya) maka prestasi akan bisa kita dapatkan (katepi). Implementasi nyata dari semangat SARUPI adalah Smart, Aplikatif, Reaktif, Unity, Process, Inovatie SMART Smart (kecerdasan), hanya bisa diperoleh bagi orang pembelajar, guru harus menjadi seorang pembelajar karena pengetahuan sangatlah berkembang dan dinamis. Kita tidak boleh tertinggal dalam menyerap informasi, perkembangan pengetahuan dan teknologi pembelajaran sangatlah masif, harus kita sikapi dengan respon yang tingggi, itu akan membuat kita kaya, kaya pengetahuan dan kaya keterampilan. Dan itulah modal kita dalam mencerdaskan siswa. Siswa cerdas hanya lahir dari guru yang cerdas. Peningkatan kompetensi guru dan TAS dipacu untuk menghadapi perkembangan dunia pendidikan, menyongsong era industy 5,0 yang menuntut kemampuan personal dalam bidan informasi dan teknologi. APLIKATIF Kecerdasaan seseorang tidak semata hanya dilihat dari luasnya pengetahuan, tetapi kecerdasan lebih dari itu, yaitu kemampuan seseorang dalam menerapkan pengetahuannya dalam kemasan yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Pengetahuan dan teori itu bersifat text book, tetapi penerapannya membutuhkan penyesuaian dan adaptasi sesuai dengan kebutuhan yang ada. Kita boleh mencontoh, tapi mari kita adaptasi dengan konsep ATM (Amati konsep yang kita terima, Teliti tingkat kesesuainnya, Modifikasi sesuai kondisi yang ada). Penerapan teori pembelajaran membutuhkan kecerdasan dalam menganalisa materi ajar, sesuai dengan kebutuhan yang ada, karena jika tidak dilakukan analisa bisa berakibat pada tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Guru harus mampu menyusun silabus dan perangkat pembelajaran secara mandiri, agar sesuai dengan kebutuhan yang ada di sekolah. REAKTIF Kemampuan menerima informasi baru dan kemampuan menerapkan pada kondisi nyata merupakan sikap yang baik bagi seorang guru, karena dalam proses pembelajaran guru harus kaya inovasi dan peka terhadap permasalahan yang ada. Sikap cepat tanggap terhadap permasalahan merupakan langkah yang hebat dalam meminimalisir permasalahan yang pada akhirnya diharapkan proses pembelajaran berhasil maksimal. Guru tidak boleh diam, guru harus merasa tertantang dengan setiap permasalahan dan perubahan. Ingat guru adalah agen perubahan, apakah mungkin kita bisa merubah siswa, kalau kita sendiri tidak mau berubah. Menurut seorang filosof, satu satunya yang tidak pernah berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Artinya kita harus senantiasa memperbaiki diri jangan senang di zona nyaman, karena tantangan akan mendewasakan, tantangan akan mencerdaskan kita. UNITY Guru adalah orang yang menasbihkan diri sebagai pengajar, dan kita diamanatkan oleh Negara dan masyarakat untuk mendidik putra putri bangsa. Mari kita bersatu padu dalam membina generasi muda bangsa, satukan tekad, samakan visi untuk mengemban amanat tersebut. Memang dalam proses pembelajaran bersifat parsial, tetapi sejatinya kita adalah satu, mendidik putra putri bangsa. Jika ada masalah atau kendala, kita diskusikan kita cari jalan keluarnya, karena sejatinya itu adalah tanggung jawab kita bersama. Komunikasi dan diskusi sesama rekan akan meminimalisir permasalahan, solusi akan mudah ditemukan, dan pada akhirnya akan mengurangi hambatan pembelajaran. PROCESS Visi adalah sudut pandang kedepan, bagaimana kita memproyeksikan masa depan, maka visi itu akan diterjemahkan dalam bentuk misi, tujuan dan strategi, agar proses pembelajaran yang terjadi tidak melenceng dari tujuan bersama. Proses itu tidak pernah membohongi hasil. Ketika proses bagus maka hasilnya akan bagus, begitu sebaliknya. Pengendalian dan control terhadap proses sangatlah penting sebagai bagian dari Quality control pendidikan. Tidak ada program yang bagus, yang ada hanyalah proses yang bagus. Pembelajaran harus dikemas sedemikian rupa dengan penuh keceriaan dalam konteks student construct knowledge by him, dimana siswa menjadi subyek sekaligus obyek pembelajaran. Guru bukan satu-satunya sumber belajar, dalam keterbukaan informasi dan teknologi dimungkinkan anak menyerap informasi pembelajaran lebih dahulu, disini guru harus mampu memaksimalkan kondisi tersebut. INOVATIF Kemampuan memahami visi dan misi sekolah adalah kecerdasan, kemampuan menyusun program pembelajaran adalah kepandaian, tetapi semuanya tidak berarti apa apa tanpa proses yang hebat. Proses yang hebat membutuhkan inovasi yang hebat, pembaruan-pembaruan cara kita mengajar akan menambah semangat siswa dalam belajar, sekaligus juga mengusir kejenuhan. Bayangkan siswa 8 jam dalam sehari, dari usia SD sampai SMA belajar dalam ruang yang relative sama, tanpa proses yang inovatif pasti siswa akan mengalami kejenuhan. Lalu bagaimana mau belajar kalau siswa sudah jenuh. Bunuhlah kejenuhan itu dengan kekayaan inovasi, agar semangat dan animo belajar siswa tetap tumbuh terpelihara. Pembelajaran harus dimulai dengan sesuatu yang menyenangkan sekaligus memotivasi semangat belajar siswa. Salam yang menyenangkan, cerita yang memotivasi, serta yel-yel penyemangat bisa dilakukan oleh guru utnuk tetap memelihara semangat siswa. Pembelajaran harus selain harus menarik juga harus memberikan efek antusiasme belajar siswa, jika ini bisa dilakukan maka kita menjadi GURU YANG DITUNGGU SISWA, dan itulah guru ideal. Jadi makna SARUPI adalah “dibutuhkan kecerdasan dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan, tanggap terhadap perubahan, dengan kesamaan visi dalam proses belajar yang inovatif. SEMOGA BERMANFAAT

TAS YANG MEMBANGGAKAN

 

TAS YANG MEMBANGGAKAN

(Nana Supriyatna, S.Pd., MM)

Kepala TAS SMAN 1 Tenjolaya

 

Ilustrasi :

Seorang bapak tampak memasuki outlet penjual tas, disambut ramah oleh pelayan outlet tersebut :

Pelayan     : Selamat siang bapak, ada yang bisa kami bantu ?

Pembeli     : Saya mencari tas yang besar dan berkualitas

Pelayan     : Bapak datang di toko yang tepat, kami menjual berbagai macam tas yang diperlukan, kalau boleh tahu tas seperti apa yang bapak cari? Lanjut pelayan

Pembeli     : Tas yang besar, kuat, dan elegan

Pelayan     : Maaf tuan, kenapa harus tas model demikian?

Pembeli     : Tas besar dapat menampung semua kebutuhan, aman untuk menyimpan data-data penting, dan kalau dibawa dapat menunjang penamplan saya.

 

Ilustrasi diatas adalah percakapan imaginer yang menggambarkan kebutuhan seseorang akan tas yang dibutuhkan, tas yang berkualitas dan dapat dipercaya. Sekarang mari kita berasumsi bahwa tas itu adalah TAS (Tenaga Administrasi Sekolah) dan pembeli itu adalah Kepala Sekolah, atau atasan kita yang lain.

Kepala sekolah membutuhkan TAS yang besar, kaya dengan kompetensi, kreatif dan inovatif, selain itu pula dibutuhkan TAS yang kuat dalam pendirian, memiliki komitmen tinggi, dan mampu menyiapkan serta menyimpan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat administrative, sehingga ketika dibutuhkan dapat dengan cepat memberikan pelayanan. Disamping itu TAS juga harus memiliki kepribadian dan kompetensi sosial yang tinggi, sehingga dapat membantu dan mendampingi kepala sekolah dalam berbagai kesempatan.

Untuk menjadi TAS yang besar, kuat dan elegan tentunya diperlukan pengembangan diri untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya, baik melalui pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh pemerintah, maupun pengembangan diri secara mandiri melalui diskusi kelompok, sharing, atau bahkan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Setiap orang ingin tumbuh, berkembang, sukses, dan maju. Keinginan yang wajar dan pantas untuk didukung. Manusia tidak hanya membutuhkan makan, minum, pakaian dan tempat tinggal yang layak, tetapi juga ada dimensi-dimensi psikis yang harus dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Manusia adalah fisik yang mempunyai pikiran, perasaan, mata hati, dan emosi. Tidak hanya itu manusia juga mempunyai jati diri sebagai manusia karena ia bersatu dengan realitas keadaan sekitarnya.

            Dalam berinteraksi kita membutuhkan fisik dan psikis  yang saling berhubungan, karena dengan bantuan tubuhnya manusia dapat  melambangkan perasaan, ekspresi, keinginan, emosi dan pikiran-pikirannya. Oleh karenanya, dalam usaha mengembangkan diri pun dipengaruhi berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar manusia itu sendiri.

            Kemampuan seseorang untuk mengembangkan dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, berbeda-beda dan terkadang  tidak menyadari atau tidak memahami potensi yang ada dalam diri sendiri, sehingga tidak mampu mengembangkan kemampuan atau potensi diri sendiri. Oleh karenanya pemahaman yang benar terhadap potensi diri sangatlah penting.

Setiap orang menginginkan ‘menjadi diri sendiri’ dan semua orang mendambakannya. Kita adalah pribadi yang ‘unik’ ‘khas’ dan ‘istimewa’. Untuk menjadi menjadi semakin ‘unik’ ‘khas’ dan ‘istimewa’, lingkungan sekitar kita sesungguhnya dapat membantu pengembangan diri, kita bisa memanfaatkannya untuk menjadikan diri kita ‘berisi ‘yang paling baik’ dan yang unik. Kita bukan orang lain, bukan tiruan manusia lain. Tetapi kita adalah kita. Oleh karena itu biarkanlah diri kita berkembang sekarang juga, karena waktu adalah kesempatan yang tak bakal terulang kembali. Kita hanya memiliki satu kehidupan. Hidup adalah hari ini dan mengarah ke hari esok, maka “mulailah dari sekarang kita mengembangkan diri dan menjadi pribadi yang istimewa”!.

Lalu bagaimana cara kita mengambangkan diri?. Menurut Martha Mary McGraw dalam 60 Cara Pengembangan Diri (1987), beberapa strategi yang dapat dilakukan diantaranya adalah :

1.         Diri Bertanya Pada Sendiri

Siapa saya?, Mengapa saya diciptakan?, Bagaimana saya berhubungan dengan sang pencipta?,  Apa yang saya dambakan dalam hidup ini?, Apa yang paling berharga dalam hidup saya?, Sumbangan kecil apakah yang bisa saya buat agar sekitar tempat saya berada menjadi lebih baik?, Apakah saya perlu mengubah sesuatu? Apakah saya sudah cukup puas dengan keberadaan diri saya?

Hanya dengan berdialog dengan mata batin kita secara jujur maka kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

2.         Menjadi Diri Sendiri yang Khas

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang sama persis, dan tidak seharusnya kita meniru orang lain, kita adalah diri sendiri yang mempunyai khas-an yang tidak dimiliki oleh orang lain. Biarkan diri kita berkembang dengan ke khususan dan ke unikannya, dan jadikanlah hal itu menjadi modal dasar untuk meraih kesusksesan. Oleh karena itu menjadi diri sendiri yang khas dan unik adalah pilihan tepat.

3.         Berkembang Terus

Kita adalah bagian dari lingkungan, mari kita lihat diri kita, kita pasti akan menemukan keindahan dalam diri kita. Jadilah tumbuh-tumbuhan yang selalu hijau yang mekar sepanjang tahun, tanpa perlu ditanyakan apa sebabnya. Bunga-bunga liarpun bisa bermekaran menyemarakkan keindahan alam, dan di rumah kita. Kita adalah bunga itu.

Kita ajak sesama kita untuk bertukar pikiran, bertukar impian, maupun bertukar pengalaman. Kita tanyakan kepada mereka apa yang mereka miliki. Hal seperti ini dapat diibaratkan seperti penyerbukan silang. Senyumlah pada waktu kita mendengarkan pengalaman orang lain itu. Pasti akan ada manfaatnya bagi kehidupan kita.

4.         Menjadi Pribadi yang Menarik

Untuk menjadi menarik kita harus mengenali potensi dalam diri kita. Menarik tidak mesti cantik atau tampan, tetapi lebih pada pesona diri. Untuk menjadi seseorang yang menarik kita bisa mengeksplore kemampuan kita, menyadari kekurangan kemudian menutupinya dan menonjolkan sisi lebih untuk membuatnya menjadi menarik. Menjadi menarik juga merupakan pilihan, seseorang memilih menjadi menarik atau masa bodoh tergantung dari dirinya sendiri. Percayalah bahwa diri kita betul-betul menarik. Keindahan kita diperhitungkan.

Kita memang bukan orang paling tampan atau cantik, tetapi percayalah bahwa kita memiliki ketampanan tersendiri. Jangan pernah merasa minder. Kita hanya perlu mengenal keindahan diri kita. Kita hanya perlu meyakinkah diri kita sendiri: “Bahwa saya sungguh sangat menarik”

Seseorang yang memiliki konsep diri negatif akan merasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, rendah diri, merasa diri tidak layak untuk sukses dan masih banyak hal inferior lainnya. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri, dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya (Gunawan, 2005)

5.         Mengembangkan Talenta

Tidak pernah ada kata terlambat mengembangkan diri kita teruslah belajar dan lakukan saja! Jangan pernah senang di zona nyaman, harus out of the box, menerabas keterbatasan. Kembalilah ’ke bangku sekolah atau kuliah’ Ikutilah lokakarya, seminar ataupun pelatihan. Kunjungilah ceramah-ceramah atau kita selenggarakan sendiri. Bidang apa yang kita kuasai? Beritahukanlah kepada teman sahabat, bahwa kita akan memberikan kuliah gratis, pasti kita akan menikmatinya demikian pula pendengarnya.

Talenta seseorang tidaklah sama, namun masing-masing orang pasti dibekali dengan talenta, tinggal bagaimana kita mengembangkannya, mengasahnya, untuk kemudian kita memetik hasilnya.

6.         Bersahabat

Setiap pribadi mampu bersahabat dengan kita, dan setiap individu dapat menjadi sahabat kita. Tiga keutamaan diperlukan dalam membangun persahabatan, Iman, Harapan dan kasih sayang. Tuhan yang pertama kali menjadi sahabat kita, pada waktu Ia menciptakan kita. Tiga keutamaan tersebut harus dibagi dengan orang lain. Kita bisa berharap dengan persahabatan. Kita bisa mengasihi dan menyayangi dengan persahabatan. Banyak sedikitnya sahabat tergantung pada sikap kita terhadap diri sendiri.

7.         Mendukung Orang Lain

Jika pekerjaan kita kurang mendapatkan penghargaan mungkin kita masih dapat bertahan. Tetapi kita tidak akan mampu untuk bekerja keras dan baik kalau tidak ada seorangpun yang memperhatikan kita, kita akan menjadi macet, malas, enggan bekerja. Ini berlaku bagi siapa saja.

Untuk mendapatkan dukungan, kita harus mampu mendukung orang lain, kalau ada orang yang berhasil dan kita menepuk punggungnya sebagai tanda dukungan, dia pasti akan semakin berkembang, begitupun sebaliknya.

     Sebagai pemimpin, kepala sekolah memberikan pujian dan dukungan dengan tulus terhadap anak buah apapun keberhasilannya, seberapapun keberhasilan itu, akan menjadi semangat yang paling ampuh.

8.         Berbagi dengan Orang Lain

Apa yang kita miliki dan dapat dibagi dengan orang lain? Renungkanlah! Apapun yang dapat kita bagi, sekecil apapun itu akan sangat bermanfaat bagi kita dan bagi yang menerima. Apakah kita mempunyai pengalaman menarik, lucu, gembira, yang bisa dibagi dengan orang lain? Apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain? Untuk lingkungan? Untuk negara?.

Berbagilah dengan orang lain karena dengan berbagi kita juga dapat menerima atau meminta dari orang lain

9.         Menjadi Pribadi Bahagia.

Tidak ada pekerjaan yang menyenangkan, semuanya adalah beban, hanya dengan mencintai pekerjaanlah kita dapat menemukan kepuasan dan kebahagiaan. Kebahagiaan akan melahirkan aura positif yang akan menimbulkan semangat kerja yang tinggi.

Belajarlah mencintai pekerjaaan, karena dari situ kita akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan. Sesekali boleh bercanda dan ber”joke” untuk menambah gairah kerja.

10.     Berusaha untuk Tidak Tenggelam.

Suatu saat kita dapat berjumpa dengan ’kesulitan’, dalam situasi itu kita akan merasa berat, muncul godaan, ”untuk apa melakukan pekerjaan ini?” Apakah tidak ada pekerjaan yang lebih baik?. Demikianlah godaan yang selalu muncul manakala kita berada dalam saat krisis. Tetapi bertahanlah. Berusahalah untuk tetap terapung di atas permukaan hidup. Percayalah banyak pelajaran yang bisa kita petik  untuk menjadi pribadi yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Beberapa langkah di atas dapat kita lakukan jika ada kemauan kuat dalam diri kita untuk terus berkembang, tidak ada kesempurnaan dalam hidup ini, termasuk dalam pekerjaaan. Tetapi menajdi lebih sempurna dari keadaan kita sekarang menjadi sebuah keharusan.

Jadilah TAS yang berkompeten dan dapat dipercaya, dan jadilah TASyang membanggakan dan pantas disandang.

 

Terima kasih

MEMBANGUN KINERJA TAS DENGAN "SMART"

  Tenaga Administrasi Sekolah (TAS) merupakan bagian daripada tenaga kependidikan yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari efektif...