PENSIL
1. Pensil utuh
2. Pensil sudah diserut
3. Pensil 3/4
4. Pensil 1/4
Pensil utuh, tampak bagus, berharga tapi belum berguna dan belum memiliki arti apa
apa, ketika hilang, ya hilang saja paling kita beli lagi.
Tidak ada kenangan, tidak ada memori yang digores. Kita
tidak dapat melihat kekuatan dan kepekatan pensil tersebut, selain tampilannya
yang elegan.
Begitupun
seorang guru,
Ketika seorang guru hanya tampil elegan, anggun tanpa bisa
berbuat untuk menggoreskan pengetahuan pada ruang tabularasa anak, maka keberadaannya relative tidak berarti apa-apa.
Ketika ia pergi, yang tertinggal hanya rupa dan nama. Kita tidak melihat
kompetensi yang dimilikinya.
Pensil utuh yang
diserut, adalah pensil elegan yang sudah siap untuk
dipergunakan, tapi belum dipakai, kalau toh sudah digunakan mungkin hanya
goresan kecil tanpa kita tahu kekuatan dan kepekatannya. Ketika pensil itu
patah, kita berusaha untuk menajamkannya kembali agar bisa membuat goresan
Guru
seperti ini adalah guru yang relative minim pengalaman, jam terbangnya rendah.
Ketika ada kegagalan dia berupaya mengulang kembali apa yang
sudah dikerjakan tanpa ada improvisasi dan kreativitas. Guru seperti ini
biasaya menyalahkan kegagalan pada siswa. Padahal harus kita sadari bahwa “tidak ada anak yang gagal dalam
pembelajaran, tetapi karena dia tidak mendapatkan guru yang tepat”
Tapi dari sisi program guru seperti ini sudah berupaya
menyusun/membuat program yang terencana, terinci, dan terukur agar dapat
melaksanakan kewajibannya dengan baik. Tetapi, program sebaik dan sehebat
apapun tidak ada artinya tanpa sebuah kecerdasan
untuk mengimplementasikannya dihadapan siswa.
Pensil 3/4, adalah pensil yang sudah sering digunakan, sudah banyak goresan yang
dihasilkan, mungkin sudah beberapa patah, tapi beberapa kali pula dilakukan
upaya menajamkan kembali, bahkan mungkin pensil itu bisa patah sewaktu diserut.
Guru seperti ini
adalah guru yang sudah mulai belajar dari pengalamannya, mulai bekerja keras
dan berupaya untuk memperbaiki kinerjanya.
Informasi,
contoh, pengalaman sudah digunakan dalam proses pembelajaran, tetapi masih
rendah dalam inovasi dan kreativitas. Ketika kejenuhan mulai dirasakan, yang
terjadi adalah kembali kepada rutinitas yang monoton.
Kondisi seperti ini butuh treatment dan
penyegaran untuk membangun kecerdasan berinovasi.
Pensil 1/4, adalah pensil yang jelak, sudah lama digunakan, sudah sering patah,
sering jatuh bahkan sering terselip karena bentuknya yang sudah pendek.
Banyak luka dan serpihan kayu yang sudah tanggal Tetapi
goresan yang dihasilkan sudah sangat banyak, ketika patah kita dengan cepat
menajamkannya kembali, pensil yang seperti ini biasanya pensil yang disayang oleh pemiliknya karena sudah banyak jasanya,
ketika pensil ini patah atau terselip pemiliknya tidak pernah berpikir untuk
membeli yang baru, karena rasa cintanya terhadap pensil tersebut.
Guru seperti ini
adalah guru yang sudah memiliki jam terbang tinggi, pengalaman yang hebat serta
pengetahuan yang luas.
Kegagalan
demi kegagalan yang dialami tidak pernah membuat patah semangat, justru menjadi
tantangan untuk mengembangkan kreativitas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar