Senin, 21 September 2020

MAINTENANCE PENDIDIKAN

 

MAINTENANCE PENDIDIKAN

(Nana Supriyatna, S.Pd., MM)

 

 

Tulisan ini adalah pengembangan dari tulisan (chat) group whatsapp sekolah yang ditulis oleh Dra. Vera Varianti M.Pd (kepala SMAN 1 Tenjolaya. Kabupaten Bogor), dan dikutip dari berbagai sumber.

 

Ada hal menarik yang perlu disikapi oleh semua komponen sekolah untuk mengkoordinir kinerja bawahhnya sebagai langkah estafet manejerial dari kepala sekolah yaitu MAINTENANCE.

Terkadang kita mengartikan sempit tentang maintenance ini sebagai pemeliharaan fisik semata. Sungguh itu sesuatu yang keliru. Dalam arti sempit maintenance dapat diartikan sebagai suatu pemeliharaan terhadap komponen yang dilakukan secara berkala dalam periode tertentu sehingga dapat meningkatkan keandalan dari komponen tersebut serta mencegah terjadinya breakdown dari komponen tersebut.

Dalam arti luas bisa dimaknai banyak seperti yang pernah diungkap oleh para pakar manajemen. Ketika sesuatu telah diperbaiki, telah disediakan, telah diubah, telah dibuat, dst, maka maintenance memiliki makna, khususnya era saat ini dan bahkan menyambut industri 5.0:

Lalu apa hubungannya dengan pendidikan yaa ???

Secara umum dalam pendidikan juga memiliki kriteria keandalan, keandalan yang seringkali diidentikkan dengan kualitas pendidikan itu sendiri. Kualitas atau keandalan dari suatu pendidikan dipengaruhi oleh komponen-komponen (stakeholder) yang terlibat di dalamnya.

Untuk mencapai keandalan yang optimal diperlukan metode maintenance yang optimal pula. Dalam sebuah sistem pabrik seringkali maintenance yang mendapat perhatian lebih adalah major component atau komponen utama yang paling berpengaruh terhadap jalannya sistem. Dalam ABC cost (pareto chart), hal ini diibaratkan sebagai A komponen. A komponen diartikan sebagai 20% dari jumlah komponen yang memberikan dampak hingga 80% terhadap output.

Sama seperti komponen mesin, dalam pendidikan banyak faktor yang berpengaruh dalam kualitas pendidikan itu sendiri, misalnya anak didik, orang tua, guru, kesediaan tempat belajar, fasilitas yang memadai, biaya, kurikulum pendidikan, ujian, dll. Dari berbagai faktor itu, melalui metode pengamatan, referensi, serta wawancara langsung, disimpulkan bahwa anak didik, guru, dan orang tua (sumber daya manusia) menempati peringkat 1,2, dan 3 dalam faktor berpengaruh dalam kualitas pendidikan itu sendiri (A komponen). Oleh karena itu perbaikan paling optimal adalah dengan memperbaiki ketiga faktor tersebut.

Anak didik diibaratkan sebagai input pendidikan yang akan diproses untuk menghasilkan output yang sesuai dengan keinginan. Sedangkan orang tua dan guru merupakan black box production, yang akan memproses anak didik sebagai input pendidikan. Dalam hal ini, harus ditumbuhkan sinergi antara anak didik dan orang tua maupun guru dalam menjalankan masing- masing perannya.


Bahan baku bagus tidak akan menghasilkan output yang bagus apabila tidak diproses seecara baik. Bagitupun bahan baku yang kurang bagus pasti akan menghasilkan ouput yang kurang bagus pula meskipun prosesnya dilakukan dengan maksimal.

Namun yang perlu ditekankan disini adalah bahan baku yang dipakai industri biasanya merupakan bahan baku yang pasti dan bukan varian baru. Dalam pendidikan Anak didik diibaratkan sebagai produk yang baru mengalami fase kelahiran dimana grafiknya akan cenderung turun untuk mencapai titik tertentu (meminimalkan biaya, memperbaiki kualitas, dll). Mereka diibaratkan mencari titik tertentu (jati diri atau kemampuan mereka) sehingga dalam hal ini tidak pernah ada sebutan input yang kurang bagus. Black box process akan membentuk mereka sampai mencapai titik tertentu yang kemudian perkembangan komponen  tersebut stabil dalam jangka waktu yang lama hingga akhirnya mengalami fase penurunan (kematian). Oleh karena itu black box process merupakan salah satu elemen yang penting.

Dalam kasus ini kita coba memfokuskan pada input proses itu sendiri (anak didik) yang merupakan penentu utama keberhasilan. Sebagai produk baru yang masih belum mengetahui jati dirinya, peta persaingan pasar, dan lain-lain. Oleh karena itu, hal terpenting adalah menumbuhkan dimana passion anak didik tersebut sesuai dengan keinginannya.

Saya sepakat dengan opini yang mengatakan anak didik berhak memilih sendiri mata pelajaran yang ingin dipelajari, atau setidaknya ada mata pelajaran tertentu yang dia senangi. Hal ini akan lebih mudah diterapkan terutama dalam peningkatan bidang softskill.

Memilih sesuai minat bakatnya sangat cocok diterapkan pada input yang sadar akan kemampuan dirinya, namun bagaimana kasusnya jika input tersebut tidak sadar? Black box process memiliki kewajiban untuk membimbing hal tersebut. Guru seharusnya memiliki kemampuan dalam hal tersebut. Ibaratnya pabrik untuk meningkatkan produksinya maka cost yang dikeluarkan juga lebih banyak.

Dalam dunia industri hal yang paling efektif adalah ketika kualitas dan biaya bertemu dalam satu titik equilibrium (keseimbangan). Seharusnya hal ini bisa diterapkan dalam dunia pendidikan. Kualitas pendidikan biasanya diukur melalui proyeksi peningkatan jenjang pendidikan dan perekonomian. Peningkatan ini yang bisa dijadikan patokan untuk meningkatkan biaya bidang pendidikan.

Dalam manjemen terdapat istilah maintenance reliability. Maintenance pada anak didik diibaratkan sebagai pemberian penanganan (treatment) khusus yang akan mencegah rasa bosan dan lelah dalam proses belajar. Dalam dunia industri maintenance antara komponen dilakukan secara beda baik waktu maupun perlakuan. Harusnya sebagai manusia, anak didik juga mendapat maintenance yang berbeda-beda sesuai dengan spesifikasi (kebutuhan)nya. Maintenace anak didik dapat dicontohkan misalnya seperti pemberian games, outbond, motivasi, dll, hal yang tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran.

Dalam pelaksanaannya maintenance biasanya dilakukan berdasarkan standard time dari time failure dimana satu jenis komponen seringkali memiliki standard time yang sejenis. Hal yang sama kemungkinan bisa diterapkan dalam bidang pendidikan.

Anak-anak dalam usia, tingkatan, atau kondisi yang sama memiliki standard time sendiri-sendiri dan tidak bisa disamakan. Anak-anak berkebutuhan khusus biasanya memiliki stadard time yang lebih rendah dalam bidang akademik, namun bisa lebih tinggi dalam bidang lainnya.


Pengklasifikasian golongan anak berdasarkan tingkatan atau keadaaan penting untuk mengetahui tata cara pemberian treatment yang sesuai.

Dalam bidang reliability setiap komponen pasti memiliki kelebihan dibanding komponen lainnya dimana masing-masing komponen saling melengkapi. Hal ini berlaku bagi anak didik, anak- anak yang dianggap berkekurangan pasti memiliki suatu kelebihan (kemungkinan non bidang mata pelajaran) tersendiri dibanding anak-anak yang dianggap mempunyai kelebihan (dalam bidang pelajaran). Dalam film i’m not stupid yang sangat inspiratif, percaya tidak ada anak yang tercipta untuk bodoh. Dalam hal ini mutlak yang harus melakukan perbaikan adalah elemen black box process.

Untuk mengetahui reliability anak didik biasanya dilakukan reliablity testing. Reliablity testing adalah melakukan uji keandalan dengan melakukan parameter uji coba terhadap anak didik tersebut. Masing-masing anak didik memiliki perlakuan uji keandalan yang berbeda-beda. Setiap anak didik seharusnya memiliki paramter uji sendiri-sendiri sesuai kemampuan mereka. Tidak mungkin orang yang pintar agama (misal guru agama) uji coba yang dilakukan berupa mata pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dll. Tidak seharusnya anak-anak yang sekolah 2 jam sehari parameter uji cobanya sama dengan anak-anak yang bersekolah 8 jam sehari. Dan juga seharusnya tidak bisa disamakan anak-anak dari perkotaan dengan dari pedesaan atau pedalaman parameter uji cobanya disamakan dengan anak-anak kota yang budayanya lebih terbuka karena potensi alam, pola pikir, cara pandang, dan budaya yang sangat berbeda. Uji keandalan perlu dilakukan namun seharusnya uji keandalan sesuai dengan potensi anak didiknya.

Dalam hal ini uji keandalan seharusnya dilakukan oleh sekolah mengingat mereka yang lebih tahu kondisi anak didiknya dan berhak mengarakan anak didiknya sesuai potensi daerah/sekolahnya.

Dalam bidang reliability sendiri butuh preventive maintenance yang dilaksanakan secara berkala. Misalnya sebuah motor pasti setiap berapa bulan sekali dilakukan perawatan. Hal ini berlaku bagi manusia, walaupun dengan durasi yang tidak sering, manusia sebaiknya mengkonsumsi minuman berenergi untuk mendukung dan meningkatkan stamina tubuh sehingga mampu meningkatkan nilai reliabilitynya. Dalam pendidikan, out bond, rekreasi, belajar di alam, diskusi dengan guru (terutama BK) merupakan preventive maintenance yang harus dilakukan untuk kembali menyegarkan dan menambah gairah belajar anak.

Ketika sesuatu telah diperbaiki, telah disediakan, telah diubah, telah dibuat, dst maka barulah maintenance memiliki makna, khususnya era saat ini,era industri 5.0:

1.                   Digitalisasi Pendidikan

Era Revolusi Industri 4.0 sudah sangat kita kenal dimana semua produk mulai elektronik, makanan, sampai jasa transportasi sudah diakses melalui gadget dari anak-anak hingga orang dewasa. Begitu juga orang tua di era revolusi 4.0 agar anaknya tidak menangis maka dikasih gadget biar anak-anak tidak menangis. Berbeda sebelum revolusi 4.0 dimana permainan anak-anak lebih kepada mengadu ketangkasan, misalnya main petak umpet, main bola dan lain-lain.

Namun demikian, semua pihak diharapkan mampu bersinergi dengan kemajuan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan beradaptasi dengan perkembangan Digitalisasi dunia. Secara global Digitalisasi sangat berpengaruh terhadap kehidupan, serta menjadi


kebutuhan pokok bagi setiap kalangan. Orang tua tentu untuk lebih konsisten mengontrol perkembangan dan perubahan sikap anak, hal ini bertujuan agar anak-anak tidak sampai candu dengan gadget. Salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak malas adalah akibat candu gadget yang mengakibatkan mental anak-anak terganggu, yang pada akhirnya menjadi penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu kontrol orang tua sangat diperlukan untuk terhindar dari hal yang dimaksud.

Dalam dunia pendidikan, mulai perangkat pembelajaran sampai dengan metode pembelajaran tidak lepas dari pengaruh Digital. Lalu bagaimana dengan guru dan praktisi opendidikan lainnya ?. Jika era industry 4.0 menekankan perkembangan industry digital, maka era industry 5.0 lebih menekankan pada konteks manusianya.

Digitalisasi Pendidikan adalah proses menerapkan dan memanfaatkan digital dalam pembelajaran, mulai sistem pendidikan, kurikulum hingga perangkat administrasi pendidikan. Dengan Digitalisasi pendidikan diharapkan memudahkan pelaku pendidikan dan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Untuk menghasilkan lompatan kemajuan dalam pendidikan Nasional, maka tantangan Revolusi 4.0 serta pasar bebas Global mesti dihadapi.

Kemampuan anak-anak dalam menguasai Informasi Tehnologi (IT) perlu di pantau agar tidak salah dalam pemanfaatannya. Kita harus mampu mengarahkan anak-anak dalam pemanfaatan IT, kapan dan dimana tempatnya. Untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki peserta didik, pelaku pendidikan diharapkan melakukan kajian, diskusi dan pelatihan khusus agar bisa mengarahkan pemanfaatan IT dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan perangkat pembelajaran diharapkan merata sampai ke kalangan bawah, peserta didik ditempat tinggalnya harus diberi pemantauan khusus (apakah onspot atau blank spot).

Rencana penghapusan Ujian Akhir Nasional (UAN) oleh Menteri Pendidikan merupakan bentuk komitmen dalam mengembangkan pendidikan secara nasional. Tolak ukur keberhasilan siswa tidak dinilai dari hasil Ujian Akhir tetapi faktor keseharian juga sangat berpengaruh, etitute, afektif dan psikomotorik juga mempengaruhi hasil keberhasilan siswa. Standar keberhasilan siswa tentu akan diterapkan model standar keberhasilan siswa diluar negeri, etitute dan psikomotorik tentu harus dibarengi agar setelah selesai sekolah ada kemampuan yang dimiliki.

Oleh karena itu, setiap pembelajaran dan penyajian materi diharapkan memanfaatkan Media, seperti komputer, proyektor dan penyajian materi menggunakan power point agar siswa mudah memahami. Dalam penyajian materi diharapkan bukan proses transfer ilmu semata, namum diharapkan siswa mampu mengembangkan kemampuan dalam menguasai teknologi.

Jadi, kita semua harus berubah dengang memanfaatkan teknologi elektronik. Kita wajib belajar untuk bisa berubah dan mengikutinya jika tak ingin ketinggalan. Digitalisasi dlm semua aspek (administrasi, pelayanan, perpustakaan, laboratorium semua harus seba digital. Bukan hanya di masa covid-19.

Seyogyanya dari awal kita harus sudah berubah, karena guru adalah agen perubahan


2.                   SDM dan Budaya;

Menyikapi perubahan di semua aspek seharusnya pola berpikir kita sebagai pelaku di dunia pendidikan juga berubah. Jangan bangga dengan mindset ortodok sebagai sebuah kebenaran. Karena nyatanya perubahan itu mengarah pada perubahan sikap, perilaku bahkan budaya dan peradaban. Sebagi contoh, terkadang hal kecil dari pembiasaan, sikap teratur, disiplin dan bersih, akan berpengaruh pada sikap kita terhadap lingkungan dan prasarana yang ada. Sebagus dan secanggih apapun prasarana yang disediakan, jika tidak mampu memeliharanya tetap saja akan menjadi rusak walau mungkin tidak dalam waktu singkat. Komputer yang tidak terpelihara, penggunaan yangg serampangan, berserakan dengan buku dan kertas, lingkungan yang kotor, tidak menempatkan alat pada tempatnya, ini akan cepat menimbulkan kerusakan bahkan kehilangan.

Intinya seberapa mampu kita memelihara alat dan lingkungan kita?. Seberapa efisien pemanfaatan biaya untuk itu?. Bukankah semua itu harus dibeli dengan anggaran yang harus dipertanggungjawabkan?. Akhisrnya banyak anggaran yang akan digunakan untuk itu jika kita tak mampu berlaku hemat.

Akhirnya semua itu kembali lagi pada perilaku kita untuk hidup bersih, disiplin dan teratur. Ketinggian budaya dan peradaban ditentukan dari seberapa tinggi manusi peduli terhadap lingkungan, sarana dan prasarana, serta seberapa tinggi SDM kita.

SDM adalah kemampuan seseorang dalam mengadaptasi perkembangan zaman dan mengadopsinya untuk melahirkan inovasi-inovasi tanpa meninggalkan budaya yang berlaku.

Jika kita mampu beradaptasi dengan perkembangan budaya (teknologi) maka kita akan semakin mudah dalam berkarya, tetapi jika tidak, kita akan mengalami kesulitan dan bahkan akan tertinggal. Teknologi diciptakan untuk mempermudah bukan mempersulit, kesulitan hanya akan dirasakan oleh orang yang tidak mau berkembang. Janganlah terjadi kondisi man behind the gun.

 

3.                   Business.

Business (bisnis) adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh perorangan atau juga organisasi yang melingkupi aktivitas produksi, pembelian, penjualan, atau juga pertukaran barang/jasa, dengan tujuan untuk bisa mendapatkan keuntungan atau laba.

Menurut Jeff Madura; bisnis ini merupakan suatu perusahaan yang menyediakan produk atau juga jasa(layanan) yang diinginkan oleh para pelanggan.

Menurut Brown dan Pretello: bisnis ini merupakan suatu lembaga yang menghasilkan barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan juga seluruh hal yang mencakup segala bidang usaha yang dilakukan pemerintah atau juga swasta tidak peduli itu mengejar laba maupun tidak.

Jadi jangan diartikan sempit, atau berbiacara untung dan rugi dalam jangka panjang. Bagaimana kita membangun kemandirian dari hal-hal yang sudah dikelola dengan bermutu. Pembelajaran yang berkualitas, SDM yang berkualitas, sarana dan prasarana yang berkualitas, sampai pada lulusan yang berkualitas. Ini adalah langkah awal berbisnis agar sekolah kita memiliki nilai jual dengan input yang berkualitas dari semua segi, dll.


Dari pendapat diatas ada kata kunci yang bisa kita ambil, yaitu lembaga, produksi, pelanggan, dan keuntungan

SMAN 1 Tenjolaya sebagai lembaga pendidikan merupakan produsen dari output pendidikan, bagaimana kualitas outputnya, tergantung dari proses produksinya. Proses produksi dipengaruhi oleh kualitas SDM dan kualitas sarananya.

Hukum bisnis menyatakan bahwa jumlah penjualan adalah sama dengan permintaan, tapi harus diingat deferensisi pemintaan suatu produk adalah kualitas.

Di sekitar kita banyak sekali lembaga pendidikan setingkat SMA yang sudah berdiri jauh sebelum SMA 1 Tenjolaya berdiri. Mereka mempunya keunggulan local; alumni yang sudah banyak (bahkan ada ynag jadi guru), keterikatan kekerabatan, dan lebih dekat secara psikologi dengan masyarakat.

Ini adalah tantangan yang harus kita lawan untuk menunjukan eksistensi sekolah kita. Tentunya perlawanan ini bukan seperti peperangan atau permusuhan tetapi perlawanan untuk mengalahkan keunggulan mereka.

Ketiga keunggulan mereka mustahil untuk kita kalahkan, tetapi ada satu ruang yang bisa kita lakukan untuk mengalahkan mereka tanpa menyakiti, yaitu MUTU/KUALITAS.

Menurut ISO-8402 (Loh, 2001:35), Kualitas adalah totalitas fasilitas dan karakteristik dari produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan, tersurat maupun tersirat.

Jadi produk yang berkualitas hanya dapat dihasilkan oleh proses yang berkualitas yang ditangani oleh orang orang yang berkualitas dan sarana yang berkualitas pula. Produk berkualitas biasanya memiliki nilai jual yang tinggi dan diburu orang “KFC hanya dagang goring ayam, tapi kenapa mahal ?, karena diproduk secara berkualitas oleh tenaga professional dengan konsep mengedepankan kepuasan pelanggan”

Secara sederhana dapat kita terjemahkan bahwa anak didik yang berkualitas hanya dapat dihasilkan dari proses yang berkualitas ditunjang oleh guru dan sarana yang berkualitas, dengan target memenuhi harapan orang tua dan masyarakat.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita ini hanya goring ayam atau fried chicken?

Janganlah bertanya seberapa hebat kualitas anak didik kita?, tapi mari kita instrospeksi seberapa hebat kualitas kita?, karena kualitas anak didik adalah cerminan kualitas kita. Peralatan memang sangat menunjang dalam pembentukan kualitas anak didik, tetapi ditangan guru yang berkualitas kekurangan sarana bisa ditengahi, dicarikan solusi bahkan kalau mungkin dengan membuat sarana yang sederhana dengan melibatkan siswa. Jadi tetap saja kita (guru) adalah yang utama, kita adalah blac box process.

Lalu dengan cara apa kita meningkatkan kualitas?

Sebagai seorang muslim tentunya kita harus menyadari bahwa kewajiban kita belajar itu dari semenjak ayunan sampai kita meninggal

Belajar tentunya merupakan keharusan, kita adalah pembelajar, maka kita harus selalu belajar. Membaca, berdiskusi, seminar, MGMP, lokakarya adalah ruang bagi kita untuk meningkatkan kualitas. Terapkan apa yang anda peroleh dari itu semua, sesuaikan dengan kebutuhan dan budaya local. Karena membaca, berdiskusi, seminar, MGMP dan


lokakarya itu adalah nuansa teoritis, Praktiklah yang akan membuat kita matang dan bermutu.

Mungkinkah kita mampu mendorong anak belajar kalau kita bukan pembelajar? Mungkinkah anak menjadi literat kalau kita tidak literat ?

Kalau kita ibaratkan kendaraan, anak didik adalah penumpang dan kita adalah pengemudinya, kalau kita hanya tahu kota Jakarta maka kita hanya akan membawa mereka ke Jakarta, tetapi kalau kita tahu dunia itu luas maka kita akan membawa mereka keliling dunia

Semua itu adalah bagian dari maintenance, Pertanyaan kita adalah mampukah kita

memaintenance diri menjadi berkualitas agar semua komponen juga berkualitas??

Mulai dari hal  kecil,  mulailah  dari  diri  sendiri,  dan  mulailah  dari  sekarang.  Kalau  itu  terjadi  subhanallah !

Semoga kita semua berubah dan menjadi smart sebagai insan pendidikan.

 

 

-                        Terimakasih kepada Ibu Dra. Vera Varianti yang sudah mengilhami saya mengembangkan tulisan ini

-                        Terimakasih pula kepada guru guru dan TAS SMAN 1 Tenjolaya yang selalu bekerja keras untuk meningkatkan mutu sekolah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBANGUN KINERJA TAS DENGAN "SMART"

  Tenaga Administrasi Sekolah (TAS) merupakan bagian daripada tenaga kependidikan yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari efektif...