MAINTENANCE PENDIDIKAN
(Nana Supriyatna, S.Pd., MM)
Tulisan ini adalah pengembangan dari tulisan (chat)
group whatsapp sekolah yang ditulis oleh Dra. Vera Varianti M.Pd (kepala SMAN 1
Tenjolaya. Kabupaten Bogor), dan dikutip dari berbagai sumber.
Ada hal menarik yang
perlu disikapi oleh semua komponen sekolah untuk mengkoordinir kinerja
bawahhnya sebagai langkah estafet manejerial dari kepala sekolah yaitu MAINTENANCE.
Terkadang kita
mengartikan sempit tentang maintenance ini
sebagai pemeliharaan fisik semata. Sungguh itu sesuatu yang keliru. Dalam arti
sempit maintenance dapat diartikan
sebagai suatu pemeliharaan terhadap komponen yang dilakukan secara berkala
dalam periode tertentu sehingga dapat meningkatkan keandalan dari komponen
tersebut serta mencegah terjadinya breakdown dari komponen tersebut.
Dalam arti luas bisa
dimaknai banyak seperti yang pernah diungkap oleh para pakar manajemen. Ketika
sesuatu telah diperbaiki, telah disediakan, telah diubah, telah dibuat, dst, maka maintenance memiliki makna,
khususnya era saat ini dan bahkan menyambut industri 5.0:
Lalu apa hubungannya
dengan pendidikan yaa ???
Secara umum dalam
pendidikan juga memiliki kriteria keandalan, keandalan yang seringkali
diidentikkan dengan kualitas pendidikan itu sendiri. Kualitas atau keandalan
dari suatu pendidikan dipengaruhi oleh komponen-komponen (stakeholder) yang
terlibat di dalamnya.
Untuk mencapai
keandalan yang optimal diperlukan metode maintenance yang optimal pula. Dalam
sebuah sistem pabrik seringkali maintenance yang mendapat perhatian lebih
adalah major component atau komponen utama yang paling berpengaruh terhadap
jalannya sistem. Dalam ABC cost (pareto chart), hal ini diibaratkan sebagai A
komponen. A komponen diartikan sebagai 20% dari jumlah komponen yang memberikan
dampak hingga 80% terhadap output.
Sama seperti
komponen mesin, dalam pendidikan banyak faktor yang berpengaruh dalam kualitas
pendidikan itu sendiri, misalnya anak didik, orang tua, guru, kesediaan tempat
belajar, fasilitas yang memadai, biaya, kurikulum pendidikan, ujian, dll. Dari
berbagai faktor itu, melalui metode pengamatan, referensi, serta wawancara
langsung, disimpulkan bahwa anak didik, guru, dan orang tua (sumber daya
manusia) menempati peringkat 1,2, dan 3 dalam faktor berpengaruh dalam kualitas
pendidikan itu sendiri (A komponen). Oleh karena itu perbaikan paling optimal
adalah dengan memperbaiki ketiga faktor tersebut.
Anak didik
diibaratkan sebagai input pendidikan yang akan diproses untuk menghasilkan
output yang sesuai dengan keinginan. Sedangkan orang tua dan guru merupakan black box production, yang akan
memproses anak didik sebagai input pendidikan. Dalam hal ini, harus ditumbuhkan
sinergi antara anak didik dan orang tua maupun guru dalam menjalankan masing-
masing perannya.
Bahan baku bagus
tidak akan menghasilkan output yang bagus apabila tidak diproses seecara baik.
Bagitupun bahan baku yang kurang bagus pasti akan menghasilkan ouput yang
kurang bagus pula meskipun prosesnya dilakukan dengan maksimal.
Namun yang perlu
ditekankan disini adalah bahan baku yang dipakai industri biasanya merupakan
bahan baku yang pasti dan bukan varian baru. Dalam pendidikan Anak didik
diibaratkan sebagai produk yang baru mengalami fase kelahiran dimana grafiknya
akan cenderung turun untuk mencapai titik tertentu (meminimalkan biaya,
memperbaiki kualitas, dll). Mereka diibaratkan mencari titik tertentu (jati
diri atau kemampuan mereka) sehingga dalam hal ini tidak pernah ada sebutan
input yang kurang bagus. Black box
process akan membentuk mereka sampai mencapai titik tertentu yang kemudian
perkembangan komponen tersebut stabil
dalam jangka waktu yang lama hingga akhirnya mengalami fase penurunan
(kematian). Oleh karena itu black box
process merupakan salah satu elemen yang
penting.
Dalam kasus ini kita
coba memfokuskan pada input proses itu
sendiri (anak didik) yang merupakan penentu utama keberhasilan. Sebagai produk
baru yang masih belum mengetahui jati dirinya, peta persaingan pasar, dan
lain-lain. Oleh karena itu, hal terpenting adalah menumbuhkan dimana passion anak didik tersebut sesuai
dengan keinginannya.
Saya sepakat dengan
opini yang mengatakan anak didik berhak memilih sendiri mata pelajaran yang
ingin dipelajari, atau setidaknya ada mata pelajaran tertentu yang dia senangi.
Hal ini akan lebih mudah diterapkan terutama dalam peningkatan bidang softskill.
Memilih sesuai minat
bakatnya sangat cocok diterapkan pada input yang sadar akan kemampuan dirinya,
namun bagaimana kasusnya jika input tersebut tidak sadar? Black box process memiliki kewajiban untuk membimbing hal tersebut.
Guru seharusnya memiliki kemampuan dalam hal tersebut. Ibaratnya pabrik untuk
meningkatkan produksinya maka cost yang dikeluarkan juga lebih banyak.
Dalam dunia industri
hal yang paling efektif adalah ketika kualitas
dan biaya bertemu dalam satu titik equilibrium (keseimbangan). Seharusnya
hal ini bisa diterapkan dalam dunia pendidikan. Kualitas pendidikan biasanya
diukur melalui proyeksi peningkatan jenjang pendidikan dan perekonomian.
Peningkatan ini yang bisa dijadikan patokan untuk meningkatkan biaya bidang pendidikan.
Dalam manjemen
terdapat istilah maintenance reliability.
Maintenance pada anak didik diibaratkan sebagai pemberian penanganan (treatment) khusus yang akan mencegah
rasa bosan dan lelah dalam proses belajar. Dalam dunia industri maintenance
antara komponen dilakukan secara beda baik waktu maupun perlakuan. Harusnya
sebagai manusia, anak didik juga mendapat maintenance yang berbeda-beda sesuai
dengan spesifikasi (kebutuhan)nya. Maintenace anak didik dapat dicontohkan
misalnya seperti pemberian games, outbond, motivasi, dll, hal yang tidak
berhubungan langsung dengan mata pelajaran.
Dalam pelaksanaannya
maintenance biasanya dilakukan berdasarkan standard
time dari time failure dimana
satu jenis komponen seringkali memiliki standard
time yang sejenis. Hal yang sama kemungkinan bisa diterapkan dalam bidang
pendidikan.
Anak-anak dalam
usia, tingkatan, atau kondisi yang sama memiliki standard time sendiri-sendiri dan tidak bisa disamakan. Anak-anak
berkebutuhan khusus biasanya memiliki stadard
time yang lebih rendah dalam bidang akademik, namun bisa lebih tinggi dalam
bidang lainnya.
Pengklasifikasian
golongan anak berdasarkan tingkatan atau keadaaan penting untuk mengetahui tata
cara pemberian treatment yang sesuai.
Dalam bidang reliability setiap komponen pasti
memiliki kelebihan dibanding komponen lainnya dimana masing-masing komponen
saling melengkapi. Hal ini berlaku bagi anak didik, anak- anak yang dianggap
berkekurangan pasti memiliki suatu kelebihan (kemungkinan non bidang mata
pelajaran) tersendiri dibanding anak-anak yang dianggap mempunyai kelebihan
(dalam bidang pelajaran). Dalam film i’m not stupid yang sangat
inspiratif, percaya tidak ada anak yang tercipta untuk bodoh. Dalam hal ini
mutlak yang harus melakukan perbaikan adalah elemen black box process.
Untuk mengetahui
reliability anak didik biasanya dilakukan reliablity testing. Reliablity
testing adalah melakukan uji keandalan dengan melakukan parameter uji coba
terhadap anak didik tersebut. Masing-masing anak didik memiliki perlakuan uji
keandalan yang berbeda-beda. Setiap anak didik seharusnya memiliki paramter uji
sendiri-sendiri sesuai kemampuan mereka. Tidak mungkin orang yang pintar agama
(misal guru agama) uji coba yang dilakukan berupa mata pelajaran IPA,
Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dll. Tidak seharusnya anak-anak
yang sekolah 2 jam sehari parameter uji cobanya sama dengan anak-anak yang
bersekolah 8 jam sehari. Dan juga seharusnya tidak bisa disamakan anak-anak
dari perkotaan dengan dari pedesaan atau pedalaman parameter uji cobanya
disamakan dengan anak-anak kota yang budayanya lebih terbuka karena potensi
alam, pola pikir, cara pandang, dan budaya yang sangat berbeda. Uji keandalan
perlu dilakukan namun seharusnya uji keandalan sesuai dengan potensi anak
didiknya.
Dalam hal ini uji
keandalan seharusnya dilakukan oleh sekolah mengingat mereka yang lebih tahu
kondisi anak didiknya dan berhak mengarakan anak didiknya sesuai potensi
daerah/sekolahnya.
Dalam bidang
reliability sendiri butuh preventive
maintenance yang dilaksanakan secara berkala. Misalnya sebuah motor pasti
setiap berapa bulan sekali dilakukan perawatan. Hal ini berlaku bagi manusia,
walaupun dengan durasi yang tidak sering, manusia sebaiknya mengkonsumsi
minuman berenergi untuk mendukung dan meningkatkan stamina tubuh sehingga mampu
meningkatkan nilai reliabilitynya. Dalam pendidikan, out bond, rekreasi,
belajar di alam, diskusi dengan guru (terutama BK) merupakan preventive maintenance yang harus
dilakukan untuk kembali menyegarkan dan menambah gairah belajar anak.
Ketika sesuatu telah
diperbaiki, telah disediakan, telah diubah, telah dibuat, dst maka barulah
maintenance memiliki makna, khususnya era saat ini,era industri 5.0:
1.
Digitalisasi Pendidikan
Era Revolusi
Industri 4.0 sudah sangat kita kenal dimana semua produk mulai elektronik,
makanan, sampai jasa transportasi sudah diakses melalui gadget dari anak-anak hingga orang dewasa. Begitu juga orang tua di
era revolusi 4.0 agar anaknya tidak menangis maka dikasih gadget biar anak-anak tidak menangis. Berbeda sebelum revolusi 4.0
dimana permainan anak-anak lebih kepada mengadu ketangkasan, misalnya main
petak umpet, main bola dan lain-lain.
Namun demikian,
semua pihak diharapkan mampu bersinergi dengan kemajuan zaman, kemajuan ilmu
pengetahuan dan beradaptasi dengan perkembangan Digitalisasi dunia. Secara
global Digitalisasi sangat berpengaruh terhadap kehidupan, serta menjadi
kebutuhan pokok
bagi setiap kalangan. Orang tua tentu untuk lebih konsisten mengontrol
perkembangan dan perubahan sikap anak, hal ini bertujuan agar anak-anak tidak
sampai candu dengan gadget. Salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak malas
adalah akibat candu gadget yang mengakibatkan mental anak-anak terganggu, yang
pada akhirnya menjadi penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu
kontrol orang tua sangat diperlukan untuk terhindar dari hal yang dimaksud.
Dalam dunia
pendidikan, mulai perangkat pembelajaran sampai dengan metode pembelajaran
tidak lepas dari pengaruh Digital. Lalu bagaimana dengan guru dan praktisi opendidikan
lainnya ?. Jika era industry 4.0 menekankan perkembangan industry digital, maka
era industry 5.0 lebih menekankan pada
konteks manusianya.
Digitalisasi
Pendidikan adalah proses menerapkan dan memanfaatkan digital dalam
pembelajaran, mulai sistem pendidikan, kurikulum hingga perangkat administrasi
pendidikan. Dengan Digitalisasi pendidikan diharapkan memudahkan pelaku
pendidikan dan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Untuk menghasilkan
lompatan kemajuan dalam pendidikan Nasional, maka tantangan Revolusi 4.0 serta
pasar bebas Global mesti dihadapi.
Kemampuan
anak-anak dalam menguasai Informasi Tehnologi (IT) perlu di pantau agar tidak
salah dalam pemanfaatannya. Kita harus mampu mengarahkan anak-anak dalam
pemanfaatan IT, kapan dan dimana tempatnya. Untuk memaksimalkan potensi yang
dimiliki peserta didik, pelaku pendidikan diharapkan melakukan kajian, diskusi
dan pelatihan khusus agar bisa mengarahkan pemanfaatan IT dalam kehidupan
sehari-hari.
Penggunaan
perangkat pembelajaran diharapkan merata sampai ke kalangan bawah, peserta
didik ditempat tinggalnya harus diberi pemantauan khusus (apakah onspot atau blank spot).
Rencana
penghapusan Ujian Akhir Nasional (UAN) oleh Menteri Pendidikan merupakan bentuk
komitmen dalam mengembangkan pendidikan secara nasional. Tolak ukur
keberhasilan siswa tidak dinilai dari hasil Ujian Akhir tetapi faktor
keseharian juga sangat berpengaruh, etitute, afektif dan psikomotorik juga
mempengaruhi hasil keberhasilan siswa. Standar keberhasilan siswa tentu akan
diterapkan model standar keberhasilan siswa diluar negeri, etitute dan
psikomotorik tentu harus dibarengi agar setelah selesai sekolah ada kemampuan
yang dimiliki.
Oleh karena itu,
setiap pembelajaran dan penyajian materi diharapkan memanfaatkan Media, seperti
komputer, proyektor dan penyajian materi menggunakan power point agar siswa
mudah memahami. Dalam penyajian materi diharapkan bukan proses transfer ilmu
semata, namum diharapkan siswa mampu mengembangkan kemampuan dalam menguasai
teknologi.
Jadi, kita semua
harus berubah dengang memanfaatkan teknologi elektronik. Kita wajib belajar
untuk bisa berubah dan mengikutinya jika tak ingin ketinggalan. Digitalisasi
dlm semua aspek (administrasi, pelayanan, perpustakaan, laboratorium semua
harus seba digital. Bukan hanya di masa covid-19.
Seyogyanya dari awal kita
harus sudah berubah, karena guru adalah
agen perubahan
2.
SDM dan Budaya;
Menyikapi
perubahan di semua aspek seharusnya pola berpikir kita sebagai pelaku di dunia
pendidikan juga berubah. Jangan bangga dengan mindset ortodok sebagai sebuah kebenaran. Karena nyatanya perubahan
itu mengarah pada perubahan sikap, perilaku bahkan budaya dan peradaban. Sebagi
contoh, terkadang hal kecil dari pembiasaan, sikap teratur, disiplin dan bersih,
akan berpengaruh pada sikap kita terhadap lingkungan dan prasarana yang ada.
Sebagus dan secanggih apapun prasarana yang disediakan, jika tidak mampu
memeliharanya tetap saja akan menjadi rusak walau mungkin tidak dalam waktu
singkat. Komputer yang tidak terpelihara, penggunaan yangg serampangan,
berserakan dengan buku dan kertas, lingkungan yang kotor, tidak menempatkan
alat pada tempatnya, ini akan cepat menimbulkan kerusakan bahkan kehilangan.
Intinya seberapa
mampu kita memelihara alat dan lingkungan kita?. Seberapa efisien pemanfaatan
biaya untuk itu?. Bukankah semua itu harus dibeli dengan anggaran yang harus
dipertanggungjawabkan?. Akhisrnya banyak anggaran yang akan digunakan untuk itu
jika kita tak mampu berlaku hemat.
Akhirnya semua itu
kembali lagi pada perilaku kita untuk hidup bersih, disiplin dan teratur.
Ketinggian budaya dan peradaban ditentukan dari seberapa tinggi manusi peduli
terhadap lingkungan, sarana dan prasarana, serta seberapa tinggi SDM kita.
SDM adalah
kemampuan seseorang dalam mengadaptasi perkembangan zaman dan mengadopsinya
untuk melahirkan inovasi-inovasi tanpa meninggalkan budaya yang berlaku.
Jika kita mampu
beradaptasi dengan perkembangan budaya (teknologi) maka kita akan semakin mudah
dalam berkarya, tetapi jika tidak, kita akan mengalami kesulitan dan bahkan
akan tertinggal. Teknologi diciptakan untuk mempermudah bukan mempersulit,
kesulitan hanya akan dirasakan oleh orang yang tidak mau berkembang. Janganlah
terjadi kondisi man behind the gun.
3.
Business.
Business (bisnis) adalah suatu
kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh perorangan atau juga organisasi
yang melingkupi aktivitas produksi, pembelian, penjualan, atau juga pertukaran
barang/jasa, dengan tujuan untuk bisa mendapatkan keuntungan atau laba.
Menurut Jeff
Madura; bisnis ini merupakan suatu perusahaan yang menyediakan produk atau juga
jasa(layanan) yang diinginkan oleh para pelanggan.
Menurut Brown dan
Pretello: bisnis ini merupakan suatu lembaga yang menghasilkan barang maupun
jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan juga seluruh hal yang mencakup segala
bidang usaha yang dilakukan pemerintah atau juga swasta tidak peduli itu
mengejar laba maupun tidak.
Jadi jangan
diartikan sempit, atau berbiacara untung dan rugi dalam jangka panjang.
Bagaimana kita membangun kemandirian dari hal-hal yang sudah dikelola dengan
bermutu. Pembelajaran yang berkualitas, SDM yang berkualitas, sarana dan
prasarana yang berkualitas, sampai pada lulusan yang berkualitas. Ini adalah
langkah awal berbisnis agar sekolah kita memiliki nilai jual dengan input yang
berkualitas dari semua segi, dll.
Dari pendapat
diatas ada kata kunci yang bisa kita ambil, yaitu lembaga, produksi, pelanggan,
dan keuntungan
SMAN 1 Tenjolaya
sebagai lembaga pendidikan merupakan produsen dari output pendidikan, bagaimana kualitas outputnya, tergantung dari proses produksinya. Proses produksi
dipengaruhi oleh kualitas SDM dan kualitas sarananya.
Hukum bisnis
menyatakan bahwa jumlah penjualan adalah sama dengan permintaan, tapi harus
diingat deferensisi pemintaan suatu produk adalah kualitas.
Di sekitar kita
banyak sekali lembaga pendidikan setingkat SMA yang sudah berdiri jauh sebelum
SMA 1 Tenjolaya berdiri. Mereka mempunya keunggulan local; alumni yang sudah
banyak (bahkan ada ynag jadi guru), keterikatan kekerabatan, dan lebih dekat
secara psikologi dengan masyarakat.
Ini adalah
tantangan yang harus kita lawan untuk menunjukan eksistensi sekolah kita.
Tentunya perlawanan ini bukan seperti peperangan atau permusuhan tetapi
perlawanan untuk mengalahkan keunggulan mereka.
Ketiga keunggulan
mereka mustahil untuk kita kalahkan, tetapi ada satu ruang yang bisa kita
lakukan untuk mengalahkan mereka tanpa menyakiti, yaitu MUTU/KUALITAS.
Menurut ISO-8402
(Loh, 2001:35), Kualitas adalah totalitas fasilitas dan karakteristik dari
produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan, tersurat maupun tersirat.
Jadi produk yang
berkualitas hanya dapat dihasilkan oleh proses yang berkualitas yang ditangani
oleh orang orang yang berkualitas dan sarana yang berkualitas pula. Produk
berkualitas biasanya memiliki nilai jual yang tinggi dan diburu orang “KFC
hanya dagang goring ayam, tapi kenapa mahal ?, karena diproduk secara
berkualitas oleh tenaga professional dengan konsep mengedepankan kepuasan
pelanggan”
Secara sederhana
dapat kita terjemahkan bahwa anak didik yang berkualitas hanya dapat dihasilkan
dari proses yang berkualitas ditunjang oleh guru dan sarana yang berkualitas,
dengan target memenuhi harapan orang tua dan masyarakat.
Pertanyaannya
sekarang adalah, apakah kita ini hanya goring ayam atau fried chicken?
Janganlah bertanya
seberapa hebat kualitas anak didik kita?, tapi mari kita instrospeksi seberapa
hebat kualitas kita?, karena kualitas anak didik adalah cerminan kualitas kita.
Peralatan memang sangat menunjang dalam pembentukan kualitas anak didik, tetapi
ditangan guru yang berkualitas kekurangan sarana bisa ditengahi, dicarikan
solusi bahkan kalau mungkin dengan membuat sarana yang sederhana dengan
melibatkan siswa. Jadi tetap saja kita (guru) adalah yang utama, kita adalah blac box process.
Lalu dengan cara
apa kita meningkatkan kualitas?
Sebagai seorang
muslim tentunya kita harus menyadari bahwa kewajiban kita belajar itu dari
semenjak ayunan sampai kita meninggal
Belajar tentunya
merupakan keharusan, kita adalah pembelajar, maka kita harus selalu belajar.
Membaca, berdiskusi, seminar, MGMP, lokakarya adalah ruang bagi kita untuk
meningkatkan kualitas. Terapkan apa yang anda peroleh dari itu semua, sesuaikan
dengan kebutuhan dan budaya local. Karena membaca,
berdiskusi, seminar, MGMP dan
lokakarya itu adalah nuansa teoritis, Praktiklah yang akan membuat kita
matang dan bermutu.
Mungkinkah kita mampu mendorong anak belajar
kalau kita bukan pembelajar? Mungkinkah anak menjadi literat kalau kita tidak
literat ?
Kalau kita
ibaratkan kendaraan, anak didik adalah penumpang dan kita adalah pengemudinya,
kalau kita hanya tahu kota Jakarta maka kita hanya akan membawa mereka ke
Jakarta, tetapi kalau kita tahu dunia itu luas maka kita akan membawa mereka
keliling dunia
Semua itu adalah bagian dari maintenance,
Pertanyaan kita adalah mampukah kita
memaintenance diri menjadi berkualitas agar semua komponen juga berkualitas??
Mulai dari hal kecil,
mulailah dari diri
sendiri, dan mulailah
dari sekarang. Kalau
itu terjadi subhanallah
!
Semoga kita semua berubah dan menjadi smart sebagai insan pendidikan.
-
Terimakasih kepada Ibu Dra. Vera Varianti yang sudah
mengilhami saya mengembangkan tulisan ini
-
Terimakasih pula kepada guru guru
dan TAS SMAN 1 Tenjolaya yang selalu bekerja keras untuk meningkatkan mutu sekolah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar